Dear Nata [12]

Surabaya, 26 Oktober 2023


Teruntuk dikau,
nan belum kutahu namanya,
Tuan pemilik rindu tak bertepi.


Kekasihku,
lagi-lagi nan belum kutahu namanya, belum sempat kupandang manis senyumnya, belum mampu kuseka tangis pedihnya. Bagaimana kabar dikau di sana? Adakah yang lebih temaram dari lampu jalanan kala mendung tenggelamkan swastamita? Adakah sebuah kebahagiaan bertaburkan tulusnya doa di rentetan sepenggal kisah nan kau agungkan itu? Atau adakah kebimbangan merasuki jiwa kala mencoba meraki seusai tergoresnya hati? Apapun arahmu, saya masih melangitkan pengharapanku agar dikau baik-baik saja, dipenuhi keberuntungan maupun berkat dari Tuhan.


Kekasihku,
atas nama sesak nan tak jua reda, bercampurkan alunan sunyi elegi, saya haturkan sejuta rindu pada dikau di sana, meski tak pernah berbalas sama sekali. Rindu yang belum bertemu oleh penyembuhnya, membiarkan ruang-ruang kosong semakin berdebu. Pada titik mana kita saling menatap netra? Pada persimpangan mana kita akan ditakdirkan bersama? Apakah harus kutunggu kapuk randu meranggas hingga tak bersisa sama sekali? Menerbangkan awan putih kecilnya macam seuntai angan nan diterbangkan angin malam. Apakah saya diberikan kesempatan bertemu denganmu bersama jiwa yang utuh? Dengan raga yang masih sanggup bersimpuh? Atau kala nafasku tak lagi berirama dengan detak jantungku, meninggalkan syal putih sebagai lambang kesucian dari cinta yang tak pernah pupus.

Saya hanya gadis biasa yang sedari kecil berkelana mengikut ayah bundanya, singgah dari kota ke kota. Meromantisme setiap peristiwa yang ada, berharap kisahnya seindah novel romansa yang dibaca, merayakan kesendirian bertemankan sepi, menunggu kehadiran dikau tanpa pertanda dari semesta. Sudah sekian lama kutuliskan pesan-pesanku kepadamu, berbalutkan lara, berselimutkan hampa, berpadu dengan dinginnya kebisuan yang meregas eloknya kuncup mawar di taman-taman bernamakan harap.

Bila nanti telah sampai pada masa di mana saya menemukan atau ditemukan, kuharap masih dapat menggapai jemarimu yang lembut, membasuh setiap perih yang menggenang dalam luka. Jika masih ada peluang bagiku, izinkan saya membagi sedikit kisah hidupku, saya pun memberikan kesempatan yang sama untukmu. Mari bercerita, meski ditemani oleh candramawa. Mari bercerita, walau nantinya tinggal kenang saja.

Baik-baik di sana, jaga hatinya. Kuharap tak ada kesedihan yang melanda dikau. Raih apa yang menjadi tujuan, berlayarlah ke manapun kau mau, bahkan hingga ke negeri seberang. Sejauh apapun, tak masalah bagi saya.

Kuakhiri sampai sini dahulu, sebentar lagi kereta akan datang dengan deru dan peluitnya. Seharusnya saya pergi bersama seorang kawan, namun ia mengabarkan kabar duka dari kota tempat ia tinggal. Di sini lah saya sendiri, di salah satu stasiun Surabaya dengan bangunan tua khas Belanda.

Baiklah, hati-hati. Sampai jumpa di titik terbaik. Jaga hati, jaga diri. Segenap kasihku untuk dikau. Sekali lagi, Tuan yang belum kuketahui namanya.

Dariku,
nan setia menunggu.









Postingan Populer