Tuntasnya Sebuah Janji
Aku memandang ke luar jendela kamar Bibi Luhde, cuaca hari ini sedang bersahabat dengan kumpulan burung gereja yang melesat di indahnya mega merah swastamita. Kututup komik yang sudah kubaca hingga halaman terakhir, kemudian meneguk secangkir teh chamomile yang sudah mendingin. Aku teringat dengan janji seseorang empat tahun lalu, di mana ia berjanji akan menemuiku di tepi pantai Nusa Dua pada bulan Januari tahun ini. Minggu lalu aku berniat untuk pergi ke Bali dengan alasan liburan ke rumah bibi, lebih tepatnya untuk bertemu seseorang yang sudah lama kunanti. Kini, aku memilih merebahkan diriku di kasur untuk menenangkan pikiran sejenak. Kulihat tanggal 17 yang kulingkari dengan warna merah, bagaimana jika nanti dia mengingkari janjinya? Aku tidak peduli dan memilih untuk memejamkan mata, meski pikiranku penuh kala mengingat tatapan terakhirnya. Sebentar lagi aku akan pergi, ada rindu yang terpendam dan menyesakkan.
Setengah jam berlalu, aku segera menyeka wajahku dan meraih jaket tipis untuk pergi ke pantai yang tak jauh dari rumah bibi. Setelah berpamitan, aku menaiki sepeda ke sana. Aku sempat melihat Nata, kawan lelaki yang cukup akrab denganku, dirinya membawa sekumpulan kembang dan melambai ke arahku, aku membalas dengan lambaian dan tersenyum ke arahnya. Kukayuh sepedaku lebih cepat untuk menuju pantai. Begitu tiba di sana, kulihat pemandangan yang indah sekali. Aku terpukau dengan keindahan alam ini, lalu kembali teringat dengan niatan awal. Diriku mulai celingukan, namun tak ada tanda-tanda dia berada di lokasi yang sama.
"Sera," panggil seseorang yang tiba-tiba menepuk pundakku. Aku terperanjat, namun kemudian tersenyum dengan gugup. "Sedang mencari siapa?" tanya wanita paruh baya yang merupakan tetangga bibi Luhde.
"Saya ada janji dengan seseorang. Dia teman lama saya," jawabku dengan sopan. Tetangga Bibi Luhde itu pun mengangguk mengerti sembari tersenyum ramah ke arahku, kemudian berlalu karena putranya yang masih kecil meminta pulang. "Bibi tinggal dulu, ya, Sera. Sebentar lagi mungkin teman kamu akan datang," ucap bibi itu sebelum pergi.
Mentari tampak tenggelam sebentar lagi, namun ke mana perginya dia? Aku mendekat ke bibir pantai, merasakan kakiku yang dingin terendam air. Kutarik napas dalam, kemudian mengembuskannya dengan perlahan. Kulihat ada beberapa anak tanpa memakai kaos sedang berlarian sembari menerbangkan pesawat kertas. Kuingat kenangan kecil itu, dimana aku dan teman lamaku itu menerbangkan pesawat kertas bersama-sama di pantai ini seraya tertawa, dirinya sempat terjatuh dan aku mencoba menolongnya yang sedang terluka dengan membawanya pada Bibi Luhde. Semenjak itu kami dekat, sebelum akhirnya aku berpindah ke Surabaya. Ketika kembali datang berkunjung, dia pergi entah ke mana dengan hanya meninggalkanku secarik pesan.
Sang surya hampir tenggelam sepenuhnya, aku masih menunggu di sini, duduk di bangku seorang diri dengan melihat keadaan sekitar seraya membaca catatan harian lama yang kubawa dari rumah. Kini, tak perlu menunggu lama lagi, mentari sudah tenggelam sepenuhnya. Riuh suara orang-orang di pantai perlahan berkurang. Aku merasa bodoh telah menunggu seseorang yang bahkan mungkin tak lagi mengharapkan kehadiranku lagi di sini. Desau angin meniup rambutku pelan. Tengkukku terasa dingin karena malam telah tiba. Dengan langkah yang berat, aku bangkit. Tak ada lagi cahaya jingga yang bersinar di sini, kini kemerlip bintang yang berganti menemani.
Sekali lagi aku menoleh ke arah ombak yang menerjang terumbu karang, kemudian pandanganku menyapu ke penjuru pantai. Dia tidak menepati janjinya, dirinya tidak berada di sini untuk melihat sunset bersama. Aku kecewa, mungkin dia sudah lupa. Kutendang kerikil di depanku, kemudian berjalan cepat menuju parkir sepeda dengan pulang ke rumah bibi. Sebelum benar-benar pergi, aku masih menunggu sebentar. Namun, benar-benar dia tidak datang. Aku pun mengayuh sepedaku menjauhi pantai.
Di tikungan jalan aku sedikit kehilangan kendali karena ada anjing yang hampir saja kutabrak, pikiranku tak karuan. Karena sudah lelah aku menepi sebentar, masih sambil menaiki sepeda. Tak lama seseorang memanggilku, begitu menoleh, aku melihat wajah yang tampak kebingungan karena tiba-tiba aku menitikkan air mata.
"Ada apa, Sera? Kamu kenapa?" tanyanya. Aku masih terdiam, namun dia kembali bertanya. "Siapa yang membuatmu menangis? Akan aku datangi orangnya," katanya percaya diri sekali. Aku tertawa kecil sambil mengeluarkan sedikit air mata.
"Tidak ada apa-apa, Nat. Sudahlah," ucapku dengan sedikit memaksakan senyum. Nata mengernyitkan kening, lalu mengusap bekas air mataku yang mulai mengering di pipi. Nata menatapku cukup serius, kemudian ia mengembuskan napasnya dengan berat. "Maaf, aku refleks mengusap air matamu. Aku tahu kau menunggu lama di tepi pantai tadi, kau sedang menunggu siapa? Atau karena Zin?"
Aku terpaku. Tindakanku yang menunggu seseorang di pantai tadi memang terlihat bodoh, kupijat pelipisku pelan. Nata bahkan sudah menduga itu Zin karena ia juga mengenalnya.
"Ya sudah, aku pulang dulu ya. Besok sore aku sudah harus kembali ke Surabaya," kataku sambil tersenyum. Nata mengangguk, "hati-hati di jalan, Ser. Salam untuk kucingmu si Kaiden di sana, ya. Kalau kau butuh teman, kau bisa menghubungiku."
Aku tersenyum lebar, begitu pula dengan Nata. Kulambaikan tanganku padanya dan segera berlalu, sepertinya dia khawatir, namun tak perlu dia mencemaskanku karena aku sendiri yang menginginkan untuk menunggu. "Terima kasih, Nata," batinku dalam hati sembari melaju di bawah rententan lampu jalanan yang temaram.
Kumasuki kamarku dengan langkah gontai. Begitu kututup pintu kamar, aku terduduk di lantai sambil bersandar di daun pintu. Kubuka buku harian lamaku yang sudah lusuh dari dalam tas, kubaca per lembarnya sembari mengingat kisah tentang Zin. Dahulu aku sering memperhatikannya bermain basket di lapangan dekat rumahnya setiap Minggu pagi dan mendengar lantunan gitar akustiknya di lorong kelas kala kami masih awal menduduki bangku Sekolah Menengah Pertama, sebelum aku berpindah sekolah dan tak lagi tinggal di rumah Bibi Luhde yang sudah kuanggap seperti ibuku sendiri karena bunda sudah tiada ketika aku masih berumur tiga tahun, sementara ayah bekerja di luar kota sebagai pemilik restoran China dan jarang menghubungiku. Zin yang menemani hari-hariku karena aku tidak banyak mendapat teman.
Aku menunduk dan mendekap diriku sendiri, kemudian terisak. Tidak ada niatan untuk makan malam, sekali pun Bibi Luhde memintaku untuk makan bersama berulang kali. Kupejamkan mata, tak kusangka besok aku sudah harus meninggalkan Bali.
Esoknya, dua jam sebelum keberangkatan, aku menyempatkan diri untuk mampir ke pantai. Sepoi-sepoi angin mengibas rambutku pelan, kulihat nyiur pohon kelapa yang melambai dengan anggun. Aku menghela napas panjang, kulihat jam di tanganku beberapa kali. Begitu aku bersiap pergi, seseorang menarik lenganku dan memanggil namaku dengan suara yang khas. Aku pun menoleh ke arahnya, seorang dengan topi hitam berdiri di hadapanku.
"Maaf, aku telat," katanya sambil melepaskan topi. Mataku memerah dan pipiku terasa panas. "Lama tidak berjumpa, Sera." Seorang yang berada di hadapanku kini tampak tersenyum, senyuman yang jelas kurindu. Ia kini berada di hadapanku dengan tubuh yang lebih tinggi dan parasnya yang tampan. Ia berponi sedikit ikal dan lesung pipitnya semakin terlihat jelas.
"Zin?" tanyaku memastikan, dia mengangguk dan tersenyum. "Ke mana saja kau selama ini?" tanyaku lagi, namun dia tak menjawab. Aku baru tersadar jika tubuhnya penuh memar dan luka. "Zin, kau baik-baik saja?" tanyaku, dia hanya mengangguk. "Aku akan mengambil obat merah, kau tunggu di sini."
Begitu aku berbalik, Zin kembali menarik lenganku. Ia menggeleng, "tidak perlu, Ser. Yang penting kau ada di sini sekarang, sebentar lagi kau akan pulang, kan?"
"Tapi lukamu? Yang benar saja, jangan bercanda." Aku mulai mencemaskan kondisinya. Zin hanya berkata jika ia sempat mengalami kecelakaan ringan, dirinya sempat melihatku pergi ke arah pantai, namun di tengah perjalanan dia terserempet mobil yang terus melaju dan terjatuh di alas rumput berduri. Aku sedikit geram, namun tak dapat berbuat apapun. Zin pun lebih banyak diam, jauh berbeda dengan dia yang dahulu periang.
"Ser, sebenarnya saat itu aku tidak pergi kemana-mana, aku sengaja menghindarimu karena aku tak tahu harus mengatakan apa padamu karena firasatku mengatakan kau tidak kembali dalam waktu dekat. Aku hanya berdiam di kamar dengan harapan nanti kita bertemu lagi di sini," jelas Zin dengan tatapan nanar. Aku menggeleng tak mengerti apa yang dia pikirkan, senyumku terasa getir. "Terima kasih sudah datang," kata Zin dengan senyumnya yang manis.
Aku tak lagi kuasa menahan air mata di pelupuk mata. Kupeluk erat dirinya sembari terisak. "Aku juga berterima kasih padamu, Zin," gumamku. Zin membalas pelukanku, kemudian aku melepas pelukannya dengan hati-hati. Kami pun menikmati senja bersama sebelum akhirnya bibi Luhde menghubungiku karena sudah menunggu.
"Sampai jumpa di lain kisah, Zin." Aku pun berjalan menjauh darinya. Ia mengangguk dan tersenyum lebar. Aku terhenyak, kemudian berbalik untuk memberikan roncean gelang yang kupakai kepadanya, sekadar untuk memberi kenangan, setelahnya aku pulang menaiki sepeda, meninggalkannya yang masih berada di sana.
Begitu sampai di rumah bibi, aku memasukkan barangku ke bagasi mobil dan bersiap untuk perjalanan yang panjang nanti. Aku cukup tenang karena sudah mendapat nomornya yang baru jika ingin menghubungi dirinya. Di tengah perjalanan menuju bandara, aku pun sempat melihat Nata duduk di depan rumahnya dan melihat ke arahku di balik kaca jendela sembari tersenyum hingga kami saling menyapa. Aku teringat jika dahulu Nata yang menyampaikan pesan dari Zin untukku.
Semesta mengizinkanku untuk kembali bertemu dengan mereka, kini aku melihat keluar jendela, dimana langit mulai menggelap. Penantian dan rasa rinduku terbayar sudah, setidaknya aku dapat melihatnya meski sementara. Rasa kecewa yang sempat hadir telah tiada karena Zin kehadiran Zin nyata.
"Kau tadi bertemu siapa, Sera? Kau terlihat sumringah sekali." Bibi Luhde tertawa di jok depan, aku hanya tersenyum sembari memakan camilan. Mungkin terlihat sedernaha, namun bagiku memiliki makna yang begitu berarti untuk pertemuan kali ini.