Remedial Terbaik

Asal kau tahu, menyiksa diri dengan rasa bosan benar-benar melelahkan. Dua hari lalu aku berdiam diri di tepi jendela kamar penuh debu. Kemarin membaca novel pemberian Paman Gendut untuk ke-6 kalinya, termasuk buku Sejarah Berdarah sehingga aku tak merasa bila jemariku tergores paku meja. Sekarang aku mendekam di loteng, sesekali menyeruput kopi hitam bekas yang kusimpan di kulkas.

Dingin? Tak masalah, aku menyukainya. Alih-alih memandangi foto Jasper—kucing kesayangan, aku justru merasa takut karena rohnya telah tiada 4 tahun lalu disebabkan keracunan. Sungguh aku menyesal sudah memberinya biskuit kadaluwarsa secara tak sengaja.

Hening, tak ada suara di sini. Orang tuaku pergi entah kemana. Aku diasuh oleh Mr. Jou—pemilik hotel tua tengah kota—sedari kecil. Putri tercintanya, Adena Stueby tak pernah memperdulikanku. Dia asyik belajar di kamar, hampir jarang ke luar. Palingan dia akan ke luar untuk mengambil sekotak susu atau saat makan bersama tiba. Dia memang perempuan ambisius.

"Cepat ke mari, Ridy!" panggil Kak Adena lantang. Secepatnya aku ke luar kamar, menutup pintu, menemui mereka berdua dengan tergesa.

"Oleh-oleh! Satu kotak susu rasa cokelat untuk Einstein dan satu wadah muffin buatanku untuk Ridy." Paman Gendut benar-benar mengejutkan. Disodorkannya buah tangan pada Kak Adena juga aku secara mendadak. Tiga koper super besar ditambah dua ransel milik Paman serta Haedar dibiarkannya tergeletak di samping daun pintu. Sepatu boots mereka mengotori teras rumah.

"Di mana Jou?" tanya Paman Gendut pada Kak Adena. Yang ditanya malah mengedikkan bahu.

"Halo, lama tak berjumpa," sapanya tanpa menoleh ke arahku. Manik matanya tertuju pada siaran televisi. Tayangan yang disajikan tak menarik bagiku. "Apa kau masih menulis?" tanya Haedar dengan nada mengejek. Aku menganggukkan kepala kecil, memilin ujung kaos sedikit kesal.

"Coba kau baca, aku membelinya dari penjaja majalah lusuh dekat stasiun." Haedar memberiku sebuah majalah anak dengan berita hangat. Kubuka lembar demi lembar sampai akhirnya kutemukan apa yang Haedar maksud.

"Lomba menulis puisi tingkat nasional, total hadiah 70 juta dengan paket liburan ke Negeri Kincir Angin." Kubaca dengan lirih. Walau begitu, Haedar yang mendengar pun tertawa lepas. Dia bangkit berdiri, mengusap air mata yang menetes tanpa diminta. "Apa kau minat?" Haedar terkekeh, "meski aku tak yakin kau bakal jadi juara. Secara logika, tata bahasa kau masih dangkal, bukan? Majas saja kau belum menguasai," ujarnya sambil berjalan menjauh. Poninya yang menutupi setengah wajah ikut bergoyang ditiup angin petang.

"Apa salahnya mencoba? Bukannya pihak sirkus tak mengizinkan kau ikut serta dalam pertunjukan hanya karena aksimu gagal?" sindirku tanpa ekspresi. Haedar terpaku, kurasakan aura negatif menghampiri. Aku membuang muka tak acuh. 

"Masa bodo," katanya dengan nada lemah. "Sirkus tak lebih baik untukku." Dilepasnya jaket tipis warna cinnamon, kemudian menghilang dari balik dinding. Sekilas, tanda lahir miliknya tampak jelas di lengan kiri Haedar.

Kuakui Haedar hebat dalam berakrobat, aku yakin Haedar cuman ketiban sial. Rollabola yang ia banggakan berakhir bersama adegan memalukan. Kejadian dimana Haedar tergelicir sehingga membuatnya cedera. Aku ingat, saat itu kuintip dia dibalik tirai tebal nan bau. Dia kalah seleksi, padahal latihannya semalam suntuk. Sementara diriku ... nasib beruntung belum memihak, kemenangan hanyalah andai tanpa kepastian.

"Huh, kalau dipikir rumit juga." Kuremas lembar majalah dengan pikiran melayang. Kuajak kakiku melangkah menuju loteng—tempat paling tenang.

***

"Karena temanya pengorbanan, apa sebaiknya aku memilih waktu sebagai isi? Ah, itu biasa. Bagaimana dengan perjuangan seorang pianis buta?" batinku seraya mondar-mandir tak tahu arah. Sembari mikir, kulangkahkan kaki menuju balkon.

"Ya ampun, bagaimana ini?" Kupandangi satu bait puisi yang selesai kurangkai. Tak sedikit pun aku merasa puas, semangatku gugur. Baik, aku harus tenang. Kulirik jam di tangan menunjukkan hampir lewat tengah malam, masih banyak waktu. Batas terakhir minggu depan, bukan berarti waktu untukku panjang. Ah, aku akan berusaha kembali besok. Sekarang, mataku sudah lelah dan aku perlu tidur.

***

"Hujan," keluhku sembari mencari tempat berteduh. Baru kudapat 16 kata dalam puisiku. Detik demi detik melaju macam Flash. Sekarang langit menunjukkan sisi dinginnya, tak ada mentari yang menyinari. Yang ada awan kelabu menutupi indahnya jingga Sang Senja.

Triring!

Jalanan ramai, berdesak-desakan padahal hujan baru saja mengguyur kota. Aku kurang menyukainya. Setelah hujan begini enaknya mendengar kodok mengorek atau suara jangkrik. Sayangnya langka. 
Aku pun berbelok melewati gang kecil untuk menghindari keramaian. Kupasang earphone, memutar lagu berjudul 'Yogyakarta' oleh KLa Project untuk mengiringi perjalananku.

"Auch!" rintihku. Setetes air bening ke luar membuat pipi panas. Benar, kakiku tertusuk paku. Sandal jepit tipisku tak mampu melindungi telapak kaki, luka yang dihasilkan cukup dalam. Alhasil darah mengucur, aku pun membiarkan darah mengalir untuk menghilangkan zat asing yang bercampur.

"Gini amat." Aku meringis. Memandangi lubang kecil di telapak kaki yang memerah. Rasanya tubuhku ikut terkena dampaknya.

"Ya, Tuhan...." Aku mendongak, melihat kilatan menyambar diiringi suara guntur menyeramkan. "Astaga!" pekikku saat melihat kucing hitam bermata hijau datang dan pergi secara tiba-tiba. Spontan, buku catatanku terjatuh dalam kubangan air, termasuk catatan pentingku tadi.  Namanya kertas pasti akan basah, bukan? Tak kusangka nasib sial menghampiriku. Andai saja ada fortune cookie.

"Hujan, lagi...." Dengan langkah gontai, kupandangi sebagian puisiku yang lenyap. Tinta biru luntur, membekas tak jelas macam lukisan abstark. Aku menghela napas berat.

"Ya ampun, apa yang terjadi padamu? Kau tampak seperti-" ucapan Haedar terpotong olehku. Dia menyengir kuda tanpa mengerti apa yang terjadi padaku.

"Diam. Aku malas berdebat." Aku berjalan tertatih mengambil peralatan P3K untuk mengobati kaki. Nyeri yang kurasa menjalar ke banyak arah.

"Dari mana saja kau?" Haedar berdiri dekat pintu kamarku.

"Perpustakaan, memangnya ke mana lagi?" Aku memutar bola mata malas seraya membersihkan bekas tusukan yang memerah. Rasanya kemarin seperti ditusuk duri landak.

"Kau terluka? Pada dasarnya kau ceroboh," seloroh Haedar. "Apa ini? Idih, menjijikkan!" Haedar mencium bau dari bukuku yang tak lagi terbentuk sempurna. "Baiklah, aku tak akan menganggumu, tak tahu lagi nanti. Selamat merawat luka!" cemooh Haedar diselingi seringai iblisnya.

"Mau gimana lagi? Padahal itu gak gampang tahu." Aku menunduk pasrah.

***

Beberapa hari aku tak lanjut menulis. Badanku demam, efek paku yang menusuk kakiku cukup berkarat. Aku pun telah berobat agar tidak infeksi. Bersyukur itu tak parah. Malam ini adalah malam terakhir aku berjuang. Benar, waktu seminggu tak cukup buatku. Sayangnya otakku buntu, tak terbesit sedikit pun ide segar. Seminggu pula kuhabiskan masa liburan nan suram. Tak ada hiburan atau lainnya. Tersisa lima hari lagi aku bersekolah.

Brak!

Saking kesalnya aku memukul meja. Gemerincing lonceng kecil dari boneka Doraemon miniku ikut berbunyi. Haedar yang belum juga pulang membuatku muak. Omelan serta cemohan kasar darinya cukup membakar hati.

"Sial!" umpatku geram. Gumpalan kertas ke-64 kalinya berhasil memenuhi lantai. Aku berusaha tenang, tapi tak mudah. Dua jarum kecil pada jam dinding kunoku mengarah pada angka satu serta enam. Mataku memerah, mengedarkan pandangan pada seisi kamar yang tak berubah semenjak dulu. Berantakan, penuh lembaran tak berarti--kumpulan puisi yang tak dihargai. Dua botol susu hangat kuteguk habis. Tak kubiarkan setetes pun tertinggal di dalamnya. 
Alunan nada minor menambah suasana. Kelihatannya aku akan gagal untuk kesekian kali.

Cklek....

"Kecilkan volumenya, berisik!" Haedar berdiri di ambang pintu membawa guling. Matanya merah berair, rambutnya yang keriting macam surai singa. Aku meneguk saliva. Sekarang dia seperti Franskestein yang terbangun. Aku segera mematikan musik dari ponselku.

"Udah tuh," kataku sok santai. Haedar melotot, menusuk mataku dari jauh menggunakan kedua jarinya.

"Percuma, kau hanya buang energi melakukan lomba itu. Percaya padaku, kau tak akan pergi ke Negeri Tulip dambaanmu. Seberapa pentingnya, sih? Ingat, yang mengikuti itu ribuan, bukan satu dua orang aja. Udah, aku ngantuk. Bikin emosi saja kau." Haedar menutup pintu kasar sembari menguap lebar. Aku menganga, dua butir kristal mengalir lambat di pipiku.

"Apa maksudmu, bodoh?!" Emosiku memuncak sekarang. Otakku lelah, tanganku pegal, mataku sembab. Wajar jika aku marah, belum lagi telapak kakiku yang masih sedikit perih. Aku tak terima, semudah itu dia berkata demikian.

"Tahu ah, kau itu menyebalkan! Kau yang buat kesal! Bisanya cuma meremas jantung!" Kubanting tempat pensil milikku ke lantai beralaskan karpet bludru. Bermacam isinya berserakan tak karuan.

"Apa? Siapa itu? Ada suara tak ada orangnya." Haedar berpura-pura tak mendengar. Aku menjadi geram, rasanya ingin meledak macam reaksi kimia.

"Dar, kau payah! Baru gagal sekali, namun tak ada upaya untuk bangkit lagi. Kau bahkan lebih payah dariku, pantas saja pihak sirkus tak memilihmu. Kau hanya tergelincir, itu wajar, bukan? Pengecut!" Kulempar pena di genggamanku ke arah pintu sambil menggertak gigiku sendiri.

"Apa katamu? Pengecut?" Haedar membuka pintu kembali, hanya menampilkan setengah badannya saja. Ia terkekeh hambar seperti biasa.

"Ya?" balasku singkat disertai dengusan.

"Baik, aku memang pengecut, pencundang, atau apalah itu yang pernah kau temui. Cukup, jangan bahas soal sirkus padaku lagi." Haedar tersenyum masam, menutup pintu jauh lebih lembut dari yang sebelumnya.

"Memang kenapa? Apa itu bukti kalau kau tak becus?" Omongan yang sebenarnya tak ingin kuucapkan akhirnya terlontar dari bibir mungilku. Menyesal sudah aku mengatakannya.

"Diamlah atau kuadukan pada Paman Jou agar ia memakimu!" ancam Haedar membungkam mulutku. Tak lagi kuteruskan perdebatan bodoh ini, nasibku menjadi taruhan.

Aku tersenyum miris, menatap karanganku yang belum selesai. Tekad kuat akan kulakukan selagi mampu, tak peduli menang atau tidak. Tujuanku menulis, belajar, serta mendapat pengalaman. Masalah juara atau tidak, Tuhan yang menentukan.

***

Selang 3 hari, dihitung selesai pengiriman karya lewat pos, majalah anak yang kutunggu pun terbit. Haedar membeli langsung untukku, entah maksud apa yang ia rencanakan. Ekspresinya datar, lebih datar dari caraku memasang mimik wajah. Kucari namaku dari urutan terbawah ke atas di halaman belakang rumah. Hatiku mulai cemas, judul puisi serta nama tak jua kutemukan. Sampai akhirnya kutemukan siapa pemenang pertama.

"Anke Herome, bukan Ridy Stueby." Spontan kulempar majalah tepat di bawah kaki Haedar. Dia memungutnya, berjalan ke arahku, sembari memberiku dua kincir angin ukuran sedang dengan baling-baling berwarna biru langit.

"Apa maksudmu?" tanyaku penuh selidik. Senyuman Haedar terlihat tulus, namun mencurigakan.

"Aduh ... jangan tanyakan apa, katakan saja tak mengapa pada hasil yang kau peroleh sekarang. Benar, hm?" Haedar terkekeh. Dibawanya secarik kertas yang menurutku tak asing.

"Pemain sirkus? Itu judulnya? Bagus juga." Lagi-lagi Haedar tertawa menampilkan deretan giginya yang sedikit kekuningan. Aku mengernyit, mencoba mencerna apa yang barusan dia ucapkan.

"Pemain sirkus
Akrobat tak selalu mulus
Bolehlah dia rehat
Asal lanjut semangat
Meski digigit seribu ngengat."

Haedar membaca satu bait dari puisiku. Dia tertawa terpingkal-pingkal pada kalimat terakhir. Aku merebutnya paksa. Malu rasanya, itu puisi yang kiranya jauh dari kata apik, tapi aku berusaha merangkai katanya.

"Dari mana kau mendapatkannya?" Aku menatapnya sinis.

"Kau meninggalkannya di meja makan. Apa kau tak sadar?" Haedar mengusap matanya yang berair. Aku mengedikkan bahu kemudian menggeleng tanpa melihat wajah bundarnya. "Pantas tak menang," gumaman Haedar masih kudengar.

"Apa katamu?" Aku berkacak pinggang seolah kesal padanya. Padahal, aku cuman bercanda.

"Tidak, bukan sesuatu yang penting." Haedar tak berubah, dia santai seakan mengerti maksudku.

"Kau hendak pulang?" Baru kusadari Haedar menggendong tas ransel di punggungunya, ikat kepala bermotif polkadot putih melingkar di kepalanya. Sebuah jam tangan kulit pun ikut menempel.

"Yoi, Dy. Ayahku telah menunggu di teras depan," ucapannya berhenti sejenak, "kincir angin yang kuberi sebagai tanda maafku selama menginap di sini. Ya, sedikit terpaksa, tapi tak masalah. Walau kau belum bisa pergi ke negeri impianmu, aku yakin kau dapat berimajinasi dengan benda itu. Kau pengkhayal ulung, bukan? Haha...." Haedar terkekeh hambar.

Kuraih dua kincir angin di depanku. Kuberikan satu untuk Haedar, lalu kami meniupnya bersama seraya tertawa seolah kawan, bukan dua orang anak manusia yang saling bermusuhan.

"Ini remedialku yang ke-55 asal kau tahu, Dar. Sudah sejauh ini, bukan? Ada 55 rintangan bercampur depresi. Namun, kali ini yang terbaik." Kini giliran aku yang terkekeh hambar. Haedar tersenyum miring penuh arti yang tak kumengerti. Dia pun mengeluarkan kacamata hitam dari sakunya, lalu mengenakanya cepat.

"Sampai jumpa liburan berikutnya! Tunggu aku menjadi pesirkus sejati seperti mimpiku. Erm ... akan kubawakan beberapa buku yang kupunya nanti, mungkin bisa membantu." Haedar menepuk pundakku, sementara mataku berbinar mendengar kata buku.

"Serius?" Aku menyakinkan perkataaanya tadi. Bahkan, kincir angin di tanganku ikut berputar ria, mewakili diriku yang gembira. "Benarkah?" tanyaku lagi seraya berputar sekali, kemudian tersenyum lebar ke arahnya.

"Tapi bohong." Haedar berjalan menjauh, melambaikan tangannya. Punggung tegapnya lenyap dari pandangan kala ia berbelok masuk membawa kincir angin.

"Hei, bukankah itu juga untukku?" batinku.

Aku tersenyum, meski dia menipu untuk sekian kalinya. Kudongakkan kepala, menatap kawanan merpati menembus awan indah melintasi lazuardi. Mengucap syukur lagi seraya meniup kincir angin pemberian Haedar sembari menari kecil.

"Namanya juga hidup," ucapku lirih. Tak kusangka Kak Adena berada di samping pintu belakang sambil melipat tangan di depan dada.

"Ridy, cepat mandi! Tubuhmu bau, untung saja kau tak menemui Paman Gendut tadi," titah Kak Adena dengan sedikit berbeda. Tak tahu mengapa aku lebih menyukai dia yang begini. Nada yang dia gunakan tak sedatar biasanya.

"Iya, Kak. Ini mau mandi, santai aja." Aku meringis lebar. Segera saja pergi ke kamar mandi untuk menghilangkan bau apek dari tubuhku. Tentu, intinya maafkan aku yang selalu merepotkan Kak Adena hampir setiap pagi dan sore.

"Mengapa kusebut ini yang terbaik? Tentu kau paham akan maksudku, Dar."

-The End-

Postingan Populer