Payung Merah Miko

Aku kembali setelah sekian purnama, masih dengan kenangan usang itu yang seharusnya sudah kulupa. Tentang payung merah cantik yang menari di dekat alun-alun kota atau mengenai jemari berlumuran darah yang pernah membasuh luka. Kini, pandanganku menyapu jalanan di malam hari, pemandangan yang tak banyak berubah dengan ketika aku masih SMA. Sebelum ke rumah Bibi Koeswandari, aku mampir ke sebuah kedai di tepi jalanan untuk membeli secangkir teh hangat tanpa gula, lokasinya berseberangan dengan stasiun. Kualihkan pandanganku dari layar laptop ke jendela. Buliran kristal di luar jendela membuatku menggumam, "aku tak begitu suka hujan." 

Gumpalan asap rokok oleh pria bercodet di sebelah membuatku sedikit sesak, aku harus bersabar menunggu Greb-Car yang tak kunjung datang di halte Jalan Bhayangkara. Beberapa bocah tanpa helm iseng menawarkan tumpangannya padaku, aku hanya mengabaikannya. Tanpa sengaja aku menoleh ke seberang. Seorang lelaki berpostur tegap tengah berdiri sambil memotret ke arahku yang sedang duduk di halte dengan kamera mirrorless. Cara memotret yang khas darinya membuatku tercekat. Namun, ia pergi begitu saja dan menghilang di tikungan jalan. Ingin hati mengejar, tetapi ke mana dia pergi? 

"Nona Serancia?" panggil sopir Greb-Car ramah. "Oh iya, Pak." Aku segera merapikan barang dan bergegas pulang. Di perjalanan aku hanya diam. Pikiranku melayang pada beberapa tahun lalu, di kota Mojokerto ini, di mana aku terlatih untuk dikecewakan oleh waktu.

Empat tahun lalu, masa remaja yang katanya paling ceria, aku mengenal Miko Kami berdua menyenangi fotografi dan hobi membaca komik action. Sepulang sekolah, Miko sering mengajakku ke perpustakaan kota sambil bersantai. "Tidak ada komik di sekolah kita, bukunya terbatas dan edisi lawas semua," kekeh Miko jika aku tak menemukan bacaan yang kumau. Aku sendiri tak masalah dengan buku edisi lawas. Selain mengajakku ke perpustakaan, Miko sering membawaku keliling kota dan mencicipi kuliner sepanjang Benteng Pancasila dengan motornya di akhir pekan. Semuanya baik-baik saja hingga Miko dikabarkan menghilang setelah insiden di mana ia terkena ujung pisau kecil oleh seorang yang mencoba merampok kamera miliknya. Untungnya warga sekitar berbaik hati menolong kami. Berulang kali aku jelaskan padanya, "kita bukan karakter utama dalam komik, Mik, kita cuma anak SMA." Dia pasti membalas, "apa salahnya, Ser? Aku bisa kok menjadi Sailor Moon." Jika demikian, aku akan menjawab, "kamu nggak bisa berantem."

Jika dahulu Miko sering memberiku tebak-tebakan garing, aku akan menimpuk punggungnya menggunakan minuman kaleng. Dia sama sekali tidak pandai melucu. Kacamata tebal dan gaya berpakaian yang cenderung nyentrik membuat Miko ditolak hingga dua puluh tiga kali. "Bagaimana dengan Naya? Sudah kamu beri kadonya?" tanyaku waktu itu. Miko hanya mengangguk, dia berkata sambil menarik napas berat jika ia hanya banyak duduk sendirian sambil mencicipi kudapan manis sepanjang acara. Padahal dia sudah seharian memintaku untuk memilihkan kado di toko aksesoris rambut untuk Naya, anak beda jurusan yang sedang Miko dekati di SMA Wicesa. Sahabatku yang malang, dari situ akhirnya ia memutuskan untuk giat belajar, belajar merelakan.

Mobil melaju melewati alun-alun kota. Aku tidak lagi melihat empat patung kuda putih dan air mancur yang menjadi objek foto faforit kami kala senja. Tiba-tiba saja mobil berhenti. "Ada apa, Pak?" tanyaku. "Sebentar, Dik, bannya kempes," ucap Pak Sopir. Beliaunya ke luar dan mengecek ban, kemudian berlari ke bengkel di seberang jalan. Aku terdiam di mobil, sepintas aku teringat dengan payung merah cantik yang pernah dibawa oleh Miko. Saat itu aku mengalami patah hati sebab Momo, kucing persia kesayanganku sekarat ditabrak lari oleh pengemudi motor sport. Aku sengaja mengajak Momo berkeliling kota, namun aku kurang berhati-hati sehingga Momo lepas dariku. Ketika rintik air mulai menderas menjadi guyuran hujan, Miko datang memayungiku yang tengah memeluk Momo dengan tiba-tiba dan mendramatisir. "Semuanya akan pergi, Ser, kamu hanya perlu menyiapkan hati. Entah ditinggal atau meninggalkan," ucap Miko sembari mengelus dada.

Air mataku merembas ke pipi, di mana aku bisa bertemu lagi dengan Miko? Jika tadi benar Miko, mengapa dia tak menyapaku secara langsung? Pak Sopir pun datang, kemudian lanjut mengantarku pulang, meninggalkan lokasi penuh kenang tadi. Aku menutup mata, sudah lelah mencari kabar Miko selama ini. Ada yang bilang Miko dulu pindah sekolah ke Bekasi, tapi entah apa alasan pastinya. Samar-samar, alunan lagu Sheila on 7 yang sedari tadi menemani perjalanan akhirnya berhenti. Aku sudah sampai tujuan.

. . .

Sore berikutnya aku tiba di lokasi yang sama dengan kemarin, bertepatan dengan hari Minggu yang ramai. Tak ada alasan apapun, aku hanya merasa hampa seharian karena mengingat Miko. Iseng, aku membaca cerpen komedi untuk menghibur diri di bangku dekat penjaja gelembung sabun. Aku tak peduli pada mereka yang mungkin mengernyitkan kening karena aku tersenyum sendiri. Semenjak aku tak lagi bertemu Miko hari itu, aku banyak beralih membaca bacaan bergenre komedi pada komik online, setidaknya aku tidak ingin terlalu larut pada rasa hampa. Beberapa saat kemudian, buliran air mendarat di layar ponsel. Aku tak mengindahkannya hingga kaos bergambar Looney Tunes itu terasa basah. Rambut ikalku lepek seketika, ditambah embun di kacamata yang harus aku lap dengan kain.

"Sera?" panggil seseorang yang memakai kemeja hitam sembari membawa payungnya. Sekilas aku tak mengenal siapa yang memanggilku begitu aku menoleh ke belakang. Udara terasa lebih hangat dari sebelumnya. Miko. Aku terhenyak, apakah benar dia Miko? Yang kuingat, aku dulu lebih tinggi dari Miko tujuh cm. Kini kami berada dalam satu payung merah seperti waktu itu. 

"Miko?" sapaku memastikan, aku menanggil dengan sedikit canggung. Yang disapa hanya tersenyum. Miko menggandengku sambil berlari dan memintaku untuk berteduh di depan ruko kosong. Kami duduk menghadap jalanan yang penuh genangan air bersama pengendara yang sedang menepi. Sebagian dari mereka bersiap mengenakan jas hujan warna-warni. "Ser, kucing-kucing apa yang suka baso aci?" Miko memulai perbincangan kami dengan gurauan seperti biasa. Aku memasang muka tampak berpikir. 

"Kucing apa, Mik? Anggora? Spinx?" 
"Kucingnya tukang baso aci, dia udah dibiasakan makan baso aci dari kecil, kan?" Candaan Miko yang garing membuatku terkekeh hambar. Kali ini Miko tak tertawa, dia hanya tersenyum samar dengan tatapan yang nanar. Miko bercerita jika dia pergi ke Bekasi karena ayahnya sakit keras dan tak lama kemudian tiada, sementara ibu dan kakaknya bekerja sebagai penjual makanan cepat saji. Nomor asing yang pernah beberapa kali menghubungiku rupanya nomor baru Miko setelah dia kecopetan. Kuabaikan pesan darinya selama ini karena kupikir itu berasal dari pinjaman online yang tidak jelas asal-usulnya.

"Mau es krim, Ser?" tawar Miko. Aku tak habis pikir, hujan begini dia menawariku es krim. Miko berjalan ke arah penjual es krim yang juga sedang berteduh. Aku mengikutinya. "Pak, ada rasa yang bikin bahagia?" tanya Miko. "Mana ada, Miko?" Aku menyenggol lengan Miko. Pria tua itu tersenyum dan menyendok es krim rasa stroberi, lalu memberikannya pada Miko. Miko tersenyum lebar, dia memberi es krim itu untukku dan memesan lagi satu. 
Miko memotretku, kemudian tersenyum. Aku sedikit kesal dengannya lantaran belum siap untuk difoto. 

Begitu hujan mereda, Miko mengajakku berjalan sembari menikmati aroma petrichor. Sepanjang perjalanan ia menggandeng jemariku dan bercerita mengenai serial komik yang dia baca belakangan terakhir. Diam-diam ada rasa takut kehilangan untuk kesekian kali. Aku tak melanjutkan langkah kakiku, aku sudah tidak dapat membendung tetes air mata yang kusembunyikan sedari tadi. Miko segera menghampiri. 

"Apa kamu akan pergi lagi, Mik?" Dalam hati aku berharap Miko akan menjawab tidak. "Iya," jawab Miko santai. Ia mengacak pelan rambutku. "Besok sore aku balik ke Bekasi," kata Miko hangat. Langit kala itu terasa suram, baru saja aku bertemu dengan Miko, tetapi harus siap kehilangan kembali. Meski pun nanti aku bisa saja menghubungi Miko melalui media sosial, tetapi kesan yang kudapat akan berbeda. Aku juga tidak akan berlama-lama di kota ini karena tugasku mengantar pesanan Bunda ke Bibi Koeswandari sudah selesai. 

Miko mendekapku dalam peluknya, tangan kirinya memegang payung karena hujan terlihat menderas kembali. Aku sedikit terisak, selama aku tak menemui Miko, aku jarang datang ke klub fotografi. Aku yang juga tak banyak memiliki teman sehingga Miko teman satu-satunya yang membuatku berasa spesial. Aroma parfum semangka Miko masih seperti dulu, entah merk parfum apa itu. Miko membuat buku harianku penuh dengan namanya. 

"Sera." Miko melepas pelukannya dengan hati-hati. Aku hanya mengusap air mata, tak tahu harus bicara apa. "Kita bakal bertemu lagi di kota ini. Percaya saja, kita bukan dua karakter komik yang kini akan berpisah selamanya, 'kan?" 

Aku mengangguk mengerti. Apa yang dikatakan Miko ada benarnya. Dia kembali mengenggam jemariku dan kami berjalan bersama sambil bercerita mengenai masa lalu. Memang tak semua cerita memiliki akhir bahagia, tetapi aku masih beruntung Miko berada di sini. Miko yang masih seperti dulu, meski lebih tinggi beberapa cm dariku. Miko yang memberikanku es krim agar bahagia dan Miko yang menghibur dengan candaan garingnya.

Postingan Populer