Madre
"Bagaimana keadaan ibu sekarang, Ainun?" gumam Rhesa lirih.
Ainun menghentikan kegiatan menjahit kebaya berwarna peach di ruang kecil nan temaram. Dia tersenyum tipis sembari menggelengkan kepala pada lelaki yang duduk tak jauh darinya, kemudian melanjutkan proses menjahitnya tanpa menjawab sepatah kata pun. Nuansa kota kembang begitu menghanyutkan setelah hujan. Rhesa terdiam di tepi jendela kayu, menyapu pandangan ke seluruh pekarangan Bibi Matilda-ibu dari Ainun yang merupakan sepupunya. Dibukanya jendela pelan, membiarkan udara segar menusuk tengkuk Rhesa yang kedinginan. Beberapa bapak-bapak melakukan ronda keliling kampung, membawa lentera berpijar seperti kunang-kunang dari kejauhan. Ainun beranjak dari tempat duduknya, kemudian menggantungkan kebaya yang telah selesai dijahit di sebuah lemari jati.
"Bibi Yolanda baik-baik saja di sana. Sudah, lebih baik kamu tidur sekarang, ndak baik melamun sendirian." Ainun berdiri di dekat Rhesa dengan niatan menutup jendela. Rhesa menurut, ia melangkahkan kakinya menuju kamar, sementara Ainun masih bebersih ruangan. Sekilas, tampak pamannya memasuki kamar di ujung lorong.
Langkah Rhesa terhenti, ia mencium aroma kopi dari teras samping. Ayahnya belum tertidur, masih mengopi sendirian, ada beberapa koran tergeletak di meja kayu. Rhesa mengembuskan napas berat, duduk di samping ayahnya.
"Ayah belum tidur?" Rhesa membuka pembicaraan, sementara ayahnya-Wudi menggeleng. "Ayah masih berbincang dengan ibumu"
"Maksud Ayah?" Rhesa mengernyitkan kening, ayahnya tersenyum, lalu tertawa hingga meneteskan air mata. Wudi terdiam sejenak, mengelap air matanya, kemudian memandang Rhesa sebentar. "Ikut Padre," Wudi bangkit dengan sedikit tertatih, Rhesa pun membantunya berdiri. Wudi sempat mengarahkan pandangannya pada purnama, Rhesa pun mengikuti arah pandangan Wudi, masih tak mengerti apa maksudnya.
Keduanya berjalan menuju ruang tengah. Suasana rumah begitu tenang, Ainun telah mematikan lampu ruangan jahitnya, paman dan bibi pun terlelap karena hari sudah malam. Wudi membuka laci bawah televisi, dibukanya beberapa kotak kardus yang reot. Rhesa tak banyak bicara, dirinya masih mengamati apa yang dilakukan ayahnya. Tak lama berselang, Wudi kembali duduk sembari mengelap debu menggunakan kain seadanya.
"Sebenarnya Padre sedang apa malam-malam begini? Lalu maksud Padre yang tadi itu?" Rhesa melontarkan pertanyaannya. Wudi pun terhenti dari aktivitasnya, senyumnya memudar.
"Padre hanya ingin mengenang cerita lama sebelum besok kita balik." Rhesa terperanjat, dirinya menunduk. "Kau mau tahu bagaimana madre-mu dulu?" lanjut Wudi, Rhesa kembali mendongakkan kepalanya perlahan, kemudian menyunggingkan senyum samar ketika raut muka kembali seperti semula. Wudi menyenderkan punggungnya di sandaran sofa.
"Ayah, itu foto siapa?" Rhesa menunjuk foto yang berada di pangkuan Wudi dengan anggukan dagunya, "Ini?" Wudi tertawa kecil dan menepuk kok pundak Rhesa pelan. "Madre ketika muda. Dirinya juga cerdas sepertimu. Sosok yang tegas, tapi tak tak pernah keras. "
"Cantik," ujar Rhesa lirih. "Ngomong-ngomong, gimana cara Padre mengajak kencan si Yolanda muda?" canda Rhesa untuk mencairkan suasana. "Sudahlah, Padre mau tidur dulu ... lusa kita balik. Jangan lupakan tiketmu." Wudi mengambil sekotak album, dibawanya menuju kamar. Rhesa menyelonjorkan kakinya, lalu memejamkan mata.
Srak!
Rhesa membuka matanya, jam menunjukkan pukul setengah sepuluh. Lelaki itu berjalan lunglai menuju pintu, pandangannya menyapu ke seluruh ruang. Hening, sedikit ia merinding karena gelapnya lorong belakang. Dengan sedikit ragu, Rhesa membuka pintu.
Tak ada siapapun di sana, namun ia mendengar rintihan seseorang yang tak jauh dari tempat tinggalnya. Rhesa keluar rumah, mengintip dari balik gerbang, ia menyugar rambuti ikalnya kemudian celingukan di sela-sela pagar. Seorang dara ayu duduk di bangku depan warkop yang telah tutup. Rhesa menyipitkan matanya, ia baru tersadar bila gadis dengan dress krem bernuansa vintage selutut serta rambut dikuncir satu itu merintih seraya membuka tas yang cukup besar. Rasa penasaran Rhesa lebih besar dibanding bulu kuduknya yang berdiri. Dengan perlahan, Rhesa mengendap-endap menuju warkop, dirinya telah siap jika harus berbalik dengan langkah seribu.
Rhesa melihat plester dan sebungkus kapas di samping perempuan itu, sikunya terluka. Didekatinya perlahan, lalu duduk di sampingnya.
"Kamu nggak apa-apa?" tanya Rhesa perlahan. Yang ditanya menolehkan wajahnya. Manik matanya tak asing, begitu pula senyumnya.
"Saya tidak mengapa, hanya lecet sedikit," jawabnya sembari tersenyum tulus. Gaya bicara yang frontal sekali menurut Rhesa.
"Mau aku bantu?" Rhesa menawarkan bantuannya memasang plester, sebelum dijawab pun, Rhesa telah berusaha memasang plester dengan kapas nan telah diberi obat merah. Niatnya hanya membantu, dirinya tak tega melihat luka. "Siapa namamu? Kok malam-malam gini masih bepergian?" Rhesa melontarkan pertanyaanya.
"Saya Anne, baru saja saya diminta seorang ibu untuk mengobati anaknya yang demam," jelas Anne.
"Oh, aku Rhesa, maaf kalau kehadiranku buat kamu nggak nyaman." Rhesa terkekeh hambar, sementara Anne tersenyum tulus. "Ah, tidak. Terimakasih, sepertinya saya harus pulang sekarang." Anne bangkit, membereskan perlengkapannya.
"Mau aku antar?" tawar Rhesa lagi, namun Anne menggeleng. Anne sempat memandang Rhesa, namun segera menunduk dan berjalan pergi. Ada yang hangat bagi Rhesa, hanya saja ia tak mengerti dari mana asalnya.
"Anne," panggil Rhesa sebelum Anne pergi lebih jauh. "Kamu dokter?" Rhesa hanya mendapat senyum dengan lesung pipi yang manis. Anne kembali melanjutkan perjalanannya, ia menghilang di tikungan.
Rhesa memilih pulang, kantuknya semakin berat saja. Dimatikannya lampu tengah, kemudian berjalan ke kamar. Bayangan kampus dan rekan-rekannya kembali memenuhi pikiran, ia harus menyelesaikan tugas penyutradaraanya bulan depan, sementara naskah belum matang. Kali ini ia amat penat menjalani kehidupannya ... teman lamanya menghilang entah kemana, dia mengalami social hangover semenjak menghadiri meeting online, terlebih selepas ia mengakhiri hubungan toxic- nya dengan Dinda. Rhesa merebahkan dirinya ke ranjang, memandang langit-langit kamar bernuansa putih, setetes air matanya jatuh ke bantal, kemudian memejamkan mata. Ia mulai terbiasa dengan penolakan, dirinya terlatih hanya untuk menjadi pendengar. Di sisi lain, Rhesa rindu dengan sang ibu, sosok yang membasuh setiap luka perihnya dahulu. Sayup-sayup terdengar ketukan ranting di jendela, mengiringi Rhesa yang mulai tertidur.
°°°°
"Sudah selesai, Rhe? Lama sekali kamu rupanya." Ainun berdiri di ambang pintu seraya melipat tangannya di dada, sementara Rhesa masih menyisir rambut di depan cermin. "Udah selesai tuh, ayo berangkat," ucap Rhesa seraya menyugar rambutnya.
"Ada gadis yang ingin kau temui di sana? Rapi sekali dandananmu." Ainun mengatakannya sambil berjalan mendahului Rhesa. Yang ditanya justru cekikian. "Siapa tahu ada yang naksir, Nun," canda Rhesa, Ainun menggelengkan kepala.
Keduanya pergi menuju pasar malam menggunakan becak, Rhesa hanya ingin kembali merasakan momen masa kecilnya. Begitu sampai, mereka pun terpisah. Ainun memilih berkumpul dengan teman-teman seangkatannya, sementara Rhesa berkeliling tanpa arah selepas membeli soda. Ia kuncir sebagian rambut ikalnya, kemudian duduk di dekat wahana kora-kora, wahana yang sering madre khawatirkan pada Rhesa. Namun kali ini, Rhesa akan mencobanya kembali.
Di sisi lain, Ainun tengah duduk menikmati permen kapasnya. Pandangannya tak fokus. Seharusnya ia bisa tertawa lepas kali ini, namun ada yang menjanggal di hatinya. Berulang kali Ainun salah tanggap ketika Galuh mengajaknya berbicara.
"Pasar malamnya membosankan, ya? Memang sih, kali ini Mamad nggak ikutan."
"Idih, bukan itu, Luh," Ainun meninju lengan Galuh seraya terkekeh kesal. Galuh cengingisan menanggapi Ainun.
Tak berselang lama, suara dentuman terdengar cukup kencang. Ainun merasakan degup jantungnya tak karuan. Beberapa meneriakkan bahwa suatu wahana sedang berada dalam masalah. Keduanya saling pandang.
"Nun, apaan itu?"
"Aku nggak tahu, Luh. Semoga Rhesa, oh astaga ... Rhesa!"
Ainun mengikuti rombongan orang-orang yang berlarian menuju satu titik, tak lagi memperdulikan Galuh yang tertinggal di belakang. Sahabatnya tak sanggup untuk mengejar Ainun yang sudah kelabakan. Wahana kora-kora yang roboh cukup banyak mengakibatkan korban terluka. Firasat Ainun tak menentu, tubuhnya lemas. Tak jauh dari tempat ia berdiri, Rhesa telah terbaring lemas seraya merintih kesakitan. Ainun mendekatinya, duduk sembari meminta bantuan pada yang lain. Dengan sigap, seorang perempuan datang dan segera menyibak kaos Rhesa perlahan, dirinya meminta Ainun untuk mencari beberapa kain untuk menghentikan pendarahan sebelum ambulan datang. Anne memberikan pertolongan pertama sebelum luka Rhesa kian parah.
"Madre?" Rhesa mengigau, Ainun masih tak percaya dengan keadaan semacam ini. Dipandangnya kondisi pasar malam yang kini justru terasa menyesakkan. Bau anyir yang tercium membuat Ainun ingin meninggalkan tempat, namun dirinya tak tega dengan keadaan Rhesa. Galuh datang dengan napas terengah-engah, kemudian merangkul pundak Ainun.
Anne duduk di bangku lorong rumah sakit seraya menunduk. Ainun mencoba menghubungi Wudi maupun orang tuanya, namun tak ada jawaban, sedangkan Galuh berusaha menenangkan. Ainun pun duduk di dekat Anne, dirinya tersadar bila Anne telah banyak membantu Rhesa.
Ucapan terima kasih terlontar dari bibir Anne, sekilas dilihatnya bercak darah mengering di rok cokelat muda Anne.
"Terima kasih, Anda telah membantu sepupu saya," Ainun berkata lembut. Anne tak menjawabnya, ia tetap menunduk, kemudian meneteskan bulir kristalnya. Anne pun menghapus jejak air mata di pipinya, kemudian menoleh ke arah Ainun. Gadis itu sempat terkejut dengan paras Anne, dirinya teringat seseorang ... namun kali dia tak mampu untuk berpikir. "Sama-sama. Maaf, saya harus kembali." Anne meninggalkan ruangan. Ainun memandang Galuh, yang dipandang mengedikkan bahu tak mengerti.
°°°°
Perih masih menjalar di tubuh Rhesa, untungnya tidak terlalu serius sehingga ia bisa balik ke rumahnya sore nanti. Rhesa menyempatkan diri untuk mengunjungi tepi pantai. Sesampainya di sana, ada senyum mengembang pada raut wajah Rhesa. Anne berada di tempat yang sama, duduk manis dengan syal ala tahun 90-an. Rhesa mendekatinya, mereka duduk di bangku rotan.
"Aku dengar dari Ainun, kamu udah banyak bantu aku kemarin. Thanks ya, Anne." Selepas Rhesa mengatakannya, Anne menatap netra Rhesa, dirinya mengangguk.
"Sudah menjadi kewajibanku, Rhesa. Terima kasih juga waktu itu. Ngomong-ngomong, bagaimana keadaanmu sekarang? Sudah membaik?"
"Kamu bisa melihatnya sendiri, tanganku masih diperban dan luka di perutku belum sembuh."
"Ya, aku mengerti lukamu perlu waktu untuk sembuh. Yang sekarang aku tanyakan adalah mentalmu, Rhesa."
"Eh, mengapa kau tanyakan hal itu padaku?"
Anne berdiri, berjalan dan berdiri di tepian, membiarkan ombak pantai menyapu kakinya. Rhesa mengikuti, masih tak mengerti apa yang Anne bicarakan.
"Karena aku peduli denganmu."
"Apa kita pernah bertemu sebelumnya?" Dari sekian pertanyaan yang Rhesa punya, dia memilih pertanyaan yang mungkin terdengar absurd di telinga Anne.
"Tentu, kita pernah bertemu sebelum akhirnya terpisah keadaan. Jangan tanyakan kapan, bagiku sudah lama sekali dan kini aku merindukanmu. Dan mungkin, ini hari terakhir aku dapat menemukanmu kembali."
"Anne, aku tak mengerti."
"Kau memang tak mengerti karena kehadiranku yang terlalu mendadak, bukan? Sudahlah, kali ini jaga dirimu, lanjutkan perjalanan dan mimpimu." Anne menepuk pundak Rhesa,"mengenai anxiety-mu ... mungkin tak akan hilang, tapi kau bisa mengontrolnya. Sampaikan salamku pada semuanya, Dear. Adiós."
Rhesa mundur beberapa langkah, matanya berkaca-kaca, dirinya pun berlari sekuat tenaga menuju rumah pamannya. Di tengah persimpangan jalan, Rhesa terjatuh. Ia merutuki bongkahan batu bata yang menghalangi jalannya. Bibi Matilda yang kebetulan lewat setelah memberi dua bungkus kelapa muda segera mendekat, dipapahnya Rhesa hingga sampai tujuan. Di rumah, Wudi sudah berkemas dan bersiap pergi, dirinya cemas dengan keadaan Rhesa yang datang seperti itu.
Paman Nael mengantarkan Rhesa dan Wudi menuju stasiun. Rhesa melihat ke luar jendela, sementara ayahnya duduk di bangku depan sembari mendengarkan radio. Mereka berpisah di batas pengantar, Wudi melambaikan tangan pada kakaknya, begitu pula dengan Rhesa. Ainun tak ikut mengantar, Rhesa tak ingin membangunkan Ainun ketika masih lelap tertidur, padahal ada yang mau ia ceritakan.
°°°°
Dalam kereta, Rhesa duduk berhadapan dengan ayahnya. Dirinya menaruh tas di bagasi, kemudian memasang headphone dan memutar play-list faforitnya. Langit sore memang menghangatkan, tujuh burung gereja menembus awan, alam tampak bersahabat. Rhesa kembali terhenyak kala melihat sosok Anne berdiri di tengah suatu padang rumput mengering. Rambut Anne tergerai indah dan tak disangka ia akan berbalik menghadap Rhesa dari kejauhan, lalu melambaikan tangannya. Kala kereta berbelok, Rhesa tak lagi dapat melihat Anne, ada senyum samar di wajah Rhesa.
"Padre, apa dulu madre itu seorang dokter?" Seketika Rhesa melepas headphone dan menanyakan hal yang mengganjal di hatinya. Wudi tertawa kecil, hanya mengangguk. Wudi pun merogoh saku dan meraih dompetnya, di sana ada foto dari Yolanda tengah berkunjung sembari mengadakan praktek untuk anak-anak kota Valencia. Foto yang Wudi ambil tahun 80-an. Sosok yang mirip dengan Anne, terutama pada syal yang Anne kenakan terakhir kala Rhesa melihatnya.
Rhesa menghela napas panjang, ia memejamkan mata. Rasa rindu mereka rupanya berbalas, ia tenang akan hal itu.
°°°°
"Rhesa, kau belum tidur?"
"Aku belum bisa tidur, ada yang menghantuiku, Madre."
"Ada hantu di kolong kasurmu, Honey?"
"Bukan, hanya saja aku takut ada yang menghilang."
"Apa yang menghilang?"
"Semua orang yang kucintai, Madre, termasuk kau."
"Rhesa, setiap pertemuan memiliki durasi. Bila waktu durasi selesai, mereka akan pergi. Namun, kesan yang mendalam memiliki arti, itulah mengapa mereka tak benar-benar pergi dan tinggal di sisi hati yang sama. Apabila Madre nanti harus pergi, Madre janji bakal temukan Rhesa lagi."
"Janji?"
"Pasti."
"Te quiero, Madre."