Alessandro [draft]
Aku berjalan mengikuti jalan setapak yang berhiaskan bunga dandelion di kanan kirinya seorang diri. Rambutku yang telah panjang tergerai, sedikit darinya telah dikepang oleh seorang wanita muda, kemudian bertiup pelan karena angin. Kupakai lensa kontak sebagai pengganti kacamata untuk sementara waktu, sesuatu yang pertama kali aku coba dalam hidupku. Rok cokelat dan kemeja putih yang kupakai mengingatkanku pada model vintage pada tahun 80-an. Seutas tali rami yang telah divernis dengan bunga kering sebagai liontin kupakai di pergelangan kiri tanganku, gelang pemberian pemusik jalanan yang kutemui kemarin.
Langkahku terus maju hingga mencapai perbatasan antara daratan dengan sungai. Airnya begitu jernih, beberapa ikan kecil dan ganggang terlihat dari permukaan. Aku sempat terduduk di tepian, mengcipakkan air secara perlahan. Seorang pria paruh baya yang sedang mendayung perahu melambaikan tangannya padaku, aku tersenyum dan balik menimpalinya. Kawanan burung gereja ikut menyapa, melaju pesat di udara membentuk huruf v. Kulanjutkan perjalananku ke arah selatan, sekadar berjalan tanpa arah. Suasana yang damai dan aku mampu menghela napas dengan tenang. Setetes air mataku membuat pipiku hangat, namun kali ini aku tersenyum sembari menatap pemandangan yang indah ini dengan tatapan kosong.
"Hei, Nona." Seorang lelaki seakan memanggilku dari arah belakang, aku tak menghiraukannya, mungkin dia memanggil yang lain. Namun, aku terhenti begitu ia mensejajarkan langkahnya denganku. "Hari yang indah, bukan? Biasanya aku melihat seorang pedagang ikan bakar di sekitar sini, tapi sekarang ia tak ada."
Kudongakkan kepalaku untuk melihat wajahnya. Seseorang dengan poni ikal dengan lesung pipit yang begitu jelas terlihat meski ia hanya sedikit menyunggingkan bibirnya. Aku pun menunduk dan mengatakan apa adanya, "Oh, begitu rupanya."
Beberapa saat setelah kubicara, kudengar ia sedikit terkekeh kecil dan kembali mengikuti langkahku. Aku tak dapat melihatnya, rasanya canggung sekali.
"Apa kau turis? Aku tak pernah melihatmu sebelumnya," tanyanya dengan nada yang sopan. Aku mengangguk, "ya, kau benar."
Begitu mendengar ucapanku, dirinya berpindah tempat di depanku. "Mau kuajak berkeliling, Nona?" tawarnya sembari membungkuk layaknya pangeran dalam komik yang kubaca tempo lalu. Aku tersenyum, lalu membungkuk kembali padanya. Sebelum meninggalkan tempat ini, kami berjalan menyusuri padang dandelion. Ia memetik dua dandelion, kemudian memberikan satu padaku. Kami menerbangkan dandelion itu secara bersama-sama. Aku baru tersadar, ia memakai pakaian yang setipe denganku, berbeda dengan kebanyakan warga sekitar yang memilih style modern layaknya era-2020 seperti sekarang.
Seusai menyusuri padang dandelion, kami tiba di sebuah food street. Banyak pedagang yang berjualan di sana, suasana yang ramai, namun tetap terkondisikan. "Apa yang kau mau? Silahkan, aku membelinya untukmu." Ia kembali menawarkan, sementara aku semakin tak enak dengannya. "Apa kau serius?" tanyaku sembari tersenyum ragu.
"Apa aku terlihat tidak menyakinkan di matamu, Nona? Tenang saja, aku bukan orang jahat," tukasnya terdengar tulus. "Terima kasih, tapi aku sedang tak ingin makan apapun," jawabku santai. Ia pun mengajakku ke tempat lain, di mana aku dapat melihat gondola secara langsung.
"Mau menaikinya bersama?" Lelaki itu menatapku, aku sempat menggeleng dan ia tampak sedikit kecewa. "Tak apa, mungkin lain kali," jawabnya sembari membalikkan badan dan menginstruksiku untuk mengikutinya lagi. "Mungkin sesekali tak apa, ayo, Tuan!" ajakku. Ia tersenyum lebar dan meminta seorang pria tua menyiapkan gondolanya.
"Hari ini ada diskon, khusus bila naik berdua. Jadi biar aku saja yang membayar, kau tak perlu." Ia berkata padaku sebelum akhirnya membayar dengan uang pas. Kami menaikinya bersama, kulihat beberapa pasang kekasih tampak bahagia sembari berbincang berdua di atas gondola.
Aku mikir apa, sih? Mati aku.
"Suatu hari nanti, biar aku yang membayar setengahnya." Aku berkata dengan sedikit memberanikan diri, tetapi lelaki di hadapanku yang sedang menikmati pemandangan justru menoleh dan tersenyum ke arahku. "Tidak perlu, Nona. Terima kasih telah menemaniku sore ini." Dirinya menatapku teduh, aku menghela napas dan menimpali senyumnya yang manis.
"Siapa namamu?" Aku merasa bodoh karena tak menanyakan namanya, tetapi tak masalah karena ia pun hanya memanggilku nona sedari tadi.
"Alessandro, nama khas dari Italia."