Aku Bukan Juliet

Aku bukan Juliet, itu sekadar namaku. Mom memberiku nama Juliet, sedangkan Dad menambahkan Capulet. Ingin rasanya berganti nama, nama itu seakan mengutukku tahun ini. Awalnya aku senang saja, tapi tidak lagi. Sekarang umurku 22 tahun, aku bekerja sebagai pembalas surat cinta di kota tua Italia serta bertugas membersihkan museum atau merawat barang antik yang berada di sana, aku tak sendirian, ada teman-teman yang membantu. Menyenangkan, ya ... kira-kira sebelum aku bertemu dengan Romeo, Romeo Montague lengkapnya. Semenjak itu aku ingin pulang saja ke negeri asalku.

Romeo ini menyebalkan, dia mengacaukan balasan untuk mereka yang telah bersusah payah menulis pesan. Aku terganggu dengan kehadirannya, tidak pernah kuharapkan dia datang dan duduk bersama. Meghan sering menggodaku sebab nama kami yang unik, entah mengapa aku ingin mengasingkan diri setiap kali ia mengetuk pintu utama. 

"Juliet, aku datang membawa kue pretzel." Begitu ucapnya, setelah itu aku akan bersembunyi ke pohon besar yang ada di halaman belakang. Meghan mengambil kuenya dan Romeo itu tak menyerah begitu saja. Sekarang aku yang pasrah, dia ada di sini seraya memberikan satu buah tiket padaku. Oh tidak, ini sandiwara antara Romeo dan Juliet ... aku tak ingin pergi ke sana, tapi dia memaksa. 

"Ayolah, sebentar saja, aku tak punya teman, Jul ... sahabatku tak mau menonton sandiwara itu, keluargaku ada undangan ke kota lain," terang Romeo. Aku melipat tanganku di depan dada. 

"Kau mengajakku sebab namaku Juliet? Alasan macam apa itu? Aku saja baru mengenalmu tak lebih dari seminggu, Meo," balasku gusar. Romeo bangkit, ia menyugar rambutnya, lalu melirikku. Ku hanya membuang muka, lalu memajukan bibirku beberapa senti. 

"Kau menolak ajakanku?" Romeo kembali mendekat, "ya, aku tahu kalau aku membuat tulisanmu berantakan, tapi kalau kau berubah pikiran, aku menunggumu di sana."

"Hei, sudahlah, kau pergi sana, aku belum menyelesaikan tugasku." Aku memasuki ruang kerjaku. Romeo tersenyum masam dan pulang.

---

"Jul, kau bisa mengantarku nanti malam tidak?" tanya Meghan sembari mengecat beberapa lapisan dinding yang mengelupas.

"Memangnya kau akan pergi ke mana?"

"Ke pertunjukan, aku menjadi penata rias dan aku membutuhkanmu." Meghan tersenyum, kuiyakan permintaannya.

---

Aku memberikan tumpangan mobil pada Meghan malam ini. Meghan bercerita panjang lebar mengenai pertunjukan, aku cukup mengangguk dan memaksakan senyum, juga membiarkan ponselku yang sempat berdering sebab aku malas mengangkatnya. Di sana, Meghan memintaku untuk mengikutinya ke ruang khusus, kami melewati panggung, terlihat mewah dan elegan. Dia mulai berkreasi, memoles make-up pada perempuan yang terlihat masih berumur 10 tahun-an, perempuan itu tersenyum ke arahku, aku membalas sedikit canggung. Di sudut ruang, kuperhatikan sekitar, lama-lama aku bosan, tapi sudahlah. 

"Di mana flower crown-ku?" Seseorang masuk, cantik sekali, tinggi dan tegap, bibirnya membentuk lengkung yang sempurna, ditambah pipi merona yang sering kudamba. Gaunnya indah dengan warna pastel, ia mengenakan gelang yang bergerincing. 

"Andrea, kau tak menyembunyikannya, bukan?" 

"Oh, jadi nama perempuan kecil itu Andrea," gumamku.

"Tidak, kau mungkin lupa menaruhnya. Hei, ada di meja riasmu sendiri, Jessy!" Andrea menunjuk ke atas kotak hitam berkilau, perempuan bernama Jessy itu mengambil flower crown miliknya tanpa mempedulikan Andrea yang tertawa. 

"Kau telah menemukannya?" Ada suara yang kukenal, spontan aku menoleh. Sepasang mata tak sengaja menatapku balik dan sekarang aku terlihat kikuk di hadapannya. 

"Hm, aku yang tak menyadarinya, ayo, Rom, kita cuma punya waktu 7 menit lagi sebelum acara dimulai." Jessy membawa Romeo pergi, Romeo bertingkah seolah kami tak saling kenal. Meghan menyikut lenganku, aku menggeleng cepat.

---

Romeo, itu perannya, dan Jessy adalah Juliet. Tak kusangka dia adalah Romeo yang selama ini kukenal, dia bersikap layaknya pangeran, dan ketampanannya terpancar lebih dibanding biasanya. Ia begitu lihai dalam bersandiwara, dan cocok sekali jika dipasangkan dengan Jessy. Aku melihat di bangku belakang, penyelenggara mengizinkanku dan Meghan menonton pada bangku kosong yang tersisa, itu karena Meghan telah merias mereka dan aku adalah teman Meghan sendiri, tak lupa tiket pemberian Romeo kemarin.

Sekarang aku melihat ada yang aneh, percikan api muncul pada tempat yang tak semestinya. Perlahan namun pasti, percikan itu berubah menjadi rentetan api kecil di atas panggung. Mataku berusaha sejeli mungkin dan firasatku bermain. 

"Meo!" pekikku, sejenak seluruh pandangan tertuju padaku, tapi kemudian sebuah properti semacam sangkar burung raksasa jatuh tidak pada tempatnya, Romeo berhasil menghindar, namun saentaro ruangan mendadak dikejutkan dengan bola lampu yang meledak di beberapa tempat. Jeritan penonton begitu memilukan, Meghan mencengkeram lenganku kuat, berusaha keluar dari gedung luas ini. 

Aku masih memandang nanar ke tempat Romeo berdiri, beberapa orang berusaha menyelamatkannya, tapi ia mengalami kejutan hebat yang membuatnya pingsan. Aku menutup mataku, mengikuti Meghan, dan berusaha tak mendengar apapun.

---

"Romeo, kau tak apa? Kumohon," bisikku padanya yang tengah terbaring. Kugenggam jarinya, ada dingin di sana. Kulitnya semakin pucat.

"Jul, kau tak apa?" Romeo berusaha berdiri tegak, aku mendongak. Pakaiannya mengingatkanku pada Romeo yang asli, aku pun mengingat Jessy, dia sedang duduk di sofa sembari menghapus air mata traumanya.

"Seharusnya kau tak bertanya balik," kataku dengan nada yang berusaha melembut. Dia tersenyum, aku sedikit tersihir akan pesonanya. 

"Ternyata kau datang, kupikir-"

"Ini kebetulan yang bodoh,"

"Kau selalu menghindar dari takdir."

"Aku hanya menyangkal sedikit."

Romeo tertawa, aku lega melihatnya. 

"Jessy, sepertinya ada yang menggantikan peranmu di sini, aku menemukan Juliet sesungguhnya," ucap Romeo. Jessy yang sedang termangu akhirnya mendekat ke arah kami.

"Bagaimana bisa nama kalian begini? Aku tak menyangka, sungguh." Jessy mencoba tertawa lepas, aku berdeham pelan.

"Aku bukan Juliet, aku adalah aku," kataku pelan. Keduanya saling pandang.

"Juliet ataupun bukan, aku tetap menunggumu sedari dulu. Aku percaya kau akan datang." Balasan dari Romeo serasa meninju pipiku. "Tak tahu berapa lama kau akan tinggal atau siapa yang akan datang dalam hidupmu kemudian, aku masih bagian dari kisahmu. Kuyakin kau tak semudah itu melupakanku."

Aku terpaku kala meresapi setiap kalimatnya.

---

Kehidupanku berjalan lancar selepas aku kembali ke negeri asalku, meski aku tak lagi bertemu Meghan ataupun Romeo, namun kenangan darinya masih terasa. Scrap book termanis yang mereka buat dan sebuah surat yang membuat diriku berarti membuatku bersyukur dapat mengenal mereka. Hubungan yang kami jalin tidak hilang, meski ada saja yang menjadi penghalang. Aku percaya, apapun yang terjadi ... masih ada mereka yang menetap di ruang hati, terutama kau, Romeo.

-The End-


Postingan Populer