Our Happy Ending

Kriet....

Aku menutup pintu dengan pandangan kosong, tak lagi ada keramaian di sana, banyak dari mereka yang sudah pulang. Beberapa yang menungguku pun berjalan lebih dulu karena sudah ditunggu oleh jemputan mereka masing-masing. Aku menghela napas panjang, masih memutar lagu dari playlist spotify secara acak. Perutku sedikit lapar, tapi itu bukan masalah bagiku. Aku menuju bangku yang tak jauh dari pintu kelas, merapikan bukuku kembali sebelum pulang. Kudengar langkah kaki ke luar dari kelas sebelah, suara yang kian mendekat dan berakhir tepat di sampingku. Aku berhenti tanpa menoleh ke arahnya. Kuteguk salivaku pelan, kemudian dengan berhati-hati aku menoleh ke arahnya.

"Baru pulang?" tanyaku pada seseorang yang kemudian duduk di bangku. Dirinya tidak menjawab, aku hanya menghela napas dan kembali merapikan bukuku. Begitu selesai, aku melihat ke arahnya sejenak sebelum melenggang pergi. "Duluan, ya."

Aku terus berjalan tanpa kembali menoleh ke belakang. Sebuah teriakan mengagetkanku hingga sontak aku menengok ke sumber suara, namun belum sempat aku membalikkan badan, Rey sudah berlari dan menghadang bola yang mungkin saja akan menimpa wajahku. Rupanya masih saja ada yang bermain bola basket dini hari. Rey membersihkan seragamnya yang sedikit lusuh karenanya, aku pun berterima kasih padanya, namun dia tak menjawab, justru berjalan mendahuluiku. Aku sedikit kesal, lalu berhenti sejenak sembari memainkan ponsel untuk mengganti playlist dan mengatur napasku. Kulihat bunga dari pohon yang tak jauh sana sedang berguguran, tak perlu menunggu waktu lama, aku kembali berjalan seraya menatap punggungnya yang tegap dari kejauhan.

Ku menunggu di halte, begitu dengannya. Ketika bus datang, kumasuki duluan, kemudian memilih duduk di tepi jendela, sementara dirinya duduk di depanku. Aku masih dapat melihat bayangnya dari jendela.
Tampak dirinya melihat lembaran foto, entah foto siapa, namun kuabaikan saja hingga akhirnya aku turun.

Langit telah berubah menjadi sedikit mendung, dan langkahku gontai. Aku tak lagi menghiraukan Rey yang juga turun di lokasi yang sama. Tasku sedikit berat sehingga beberapa kali aku membenahinya dengan gusar. Playlistku memutar lagu dari Dept. Karena lelah berjalan, aku berhenti sejenak duduk di bangku yang ada di pinggir jalan, kemudian meneguk air mineral yang kubawa. Rey duduk di sampingku, kupalingkan wajahku darinya.

"Rey," panggilku lagi, sementara dia tak menoleh. "ya sudah, aku duluan ya."

Aku membenahi tasku, kemudian berjalan menjauhinya. Bulir air jatuh tepat di hidungku, rupanya gerimis. Tak jauh dari sana terdapat toko roti yang masih buka. Niat hati ingin berteduh, namun tiba-tiba sepeda dengan satu buket bunga di keranjangnya menyerempetku karena dia terdesak oleh mobil begitu aku hampir tiba di seberang. Aku merintih karena terjatuh, begitu pula dengan pengendara sepeda itu yang terluka. Gerimis berubah menjadi hujan lebat, beberapa dari mereka yang sedang melintas membantuku. Tak perlu menunggu lama, Rey dan beberapa dari mereka yang tengah melintas telah berada di sampingku. Sebelum pergi, pengendara sepeda itu meminta maaf dan memberi kartu namanya, rupanya anak pemilik toko bunga.

Seragam dan outer yang dipakai Rey basah karena hujan. Setelahnya ia memapahku untuk duduk di depan toko roti yang tadinya hendak kutuju. Rey memintaku untuk menunggu sebentar. Ia berlari menerobos hujan dan menghilang di tikungan. Seorang wanita paruh baya ke luar dari toko roti, membawakan secangkir teh. Awalnya aku menolak, tetapi ia menyakinkanku bila pemberiannya tulus.

"Apa kau tak apa, Nona? Tanganmu terluka." Wanita itu menatap ke lenganku yang tergores. Aku mengangguk yakin, dirinya tersenyum. "Kurasa temanmu tadi amat peduli padamu," ucapnya. Aku menatap kosong ke jalan dan menggeleng kecil. Wanita itu kembali tersenyum sebelum masuk ke dalam karena harus melayani pembeli.

Rey datang dengan napas tersengal seraya membawa payung transparan. Dengan cekatan ia mengobati lukaku dan memberikan plester. Ia masuk ke toko roti, lalu kembali dengan dua buah roti panggang isi keju dan satu cup cokelat hangat. "Kau tak apa?" tanyanya lembut. Aku terperanjat dan segera menoleh ke arah lain. "Apa pedulimu, Rey?" Kalimat yang kulontarkan begitu fatal, Rey terus menatapku tanpa bicara, kemudian tersenyum tipis sembari melihat jalanan yang sama.

"Apa kau pikir aku akan tidur dengan tenang setelah melihat kejadian tadi? Aku akan merasa bersalah karena tak membantumu, meski aku harus sedikit repot."

Mendengar jawaban Rey, hatiku sedikit terluka. Aku menunduk dalam, memejamkan mata sejenak, kemudian memaksakan senyum. "Terima kasih," ucapku lirih, lalu berjalan menjauh, dirinya pun mengikuti, namun aku mencegahnya. "Bantuanmu cukup di sini, aku akan berkata pada yang lain jika kau telah membantuku, kau tak perlu khawatir itu. Satu lagi, aku tak mau membuatmu repot untuk yang kedua kali."

Di waktu yang sama, kulihat wanita paruh baya itu melihatku dari balik jendela. Aku harus bertahan sebentar lagi. Tubuhku dingin, dadaku terasa sesak. Derap langkah seseorang terdengar begitu jelas, ia menyamakan langkahnya denganku seraya memayungiku dengan payung transparan itu.

"Aku tak menyangka kau akan meninggalkanku dengan cara seperti itu."

Meninggalkannya? Bukankah dia dahulu yang mengatakan tidak ingin repot membantuku?

"Mungkin kau salah paham, Ser. Aku sama sekali tidak repot membantumu. Aku hanya kerepotan dengan perasaanku sendiri." Rey menoleh ke arahku sembari tersenyum hangat. Aku berdecak pelan. "Perasaan apa maksudmu?"

Rey menggenggam jemariku, membantuku menyeberang jalanan tanpa berkata sepatah kata pun hingga aku sampai di depan rumah. Ia memberikan bungkusan roti panggang dan teh hangat itu padaku, memintaku untuk memegang payungnya, lalu dia pamit pulang. "Maaf," begitu ucapnya sebelum menerjang hujan yang entah mengapa makin menderas. Kakiku bergerak maju, ingin menyusulnya dan mengatakan terima kasih padanya sekali lagi, tetapi aku tak bisa karena lidahku kelu.

Kecewaku selama ini tiada artinya, meski hatiku sedikit menyangkal. Malamnya aku terduduk di balkon, memandangi bulan setengah purnama yang kekuningan. Rey tak berniat mengirimkan pesan padaku, mungkin tak pernah. Hingga akhirnya aku melihat kilat dari bawah. Dirinya kembali datang dan membawa kamera mirrorless. Aku mendekat ke tepi balkon, dirinya melambai, lalu memotretku dengan flash. Aku menatapnya tajam, sementara dirinya hanya tertawa kecil. Ini kali pertama dirinya memotretku secara pribadi.

Aku menuruni anak tangga dengan tergesa, kemudian membuka pintu gerbang sembari membawa payung untuk kukembalikan padanya. Rey berdiri di sana, binar matanya tampak lain. Ia tak lagi tertawa seperti sebelumnya. Aku mundur beberapa langkah, membiarkan ia menggenggam erat kamera miliknya. Pandangan kami beradu untuk beberapa saat.

"Sera, bisakah kita bicara sebentar?" tanyanya kemudian. Aku mengiyakan permintaannya dan kami berjalan ke taman bermain terdekat, berada di ayunan nan tepat di bawah sinar rembulan. Tanganku masih menggenggam payung transparan itu, menyisakan sedikit air hujan yang masih tertinggal di sana. Aku menyapu pandangan pada sekitar taman, masih ada beberapa orang yang duduk di sana, bahkan dua orang anak TK tengah berlarian memakai topi kuning seperti karakter dalam anime yang pernah kulihat.

"Hei, kurasa aku tak pandai memulai obrolan."

Begitu selesai bicara, Rey tetap diam sembari menatap kameranya. Ini sudah menit kesekian kami hanya duduk di ayunan tanpa obrolan. Aku melihatnya sekilas, gerak jemarinya sekilas, kemudian pada rambutnya yang bergerak tertiup angin.

"Rey? Apa kau mendengarku?" Kalimatku hanya angin lalu baginya. Dirnya sama sekali tak menanggapi, aku memeriksa jam yang berada dalam ponselku. Sebenarnya aku tak masalah untuk menunggunya lebih lama, aku ingin berada di sini bersamanya sebentar lagi. Tetapi aku tak bisa mengatur degup jantungku yang kini berdetak lebih cepat. Belum lagi ketika aku mengingat semua hal mengenainya, terasa sakit untuk kurasa sepihak, tetapi Rey sudah banyak berbuat baik padaku. Kuputuskan untuk membuka percakapan, membiarkan bibirku mengucap apapun yang kuingat, yang kukenang dengan sejujur-jujurnya. Bisa jadi ini kesempatan terakhir, meski aku tidak meminta demikian.

"Reyji." Kusebut nama lengkapnya dengan sedikit penekanan. "Mungkin bagimu aku invisible, tak pernah kamu anggap, bahkan menyapa saja tidak lagi. Bagimu mungkin aku terlalu pendiam untuk diajak bicara, nggak seru, atau mungkin kamu malu mengobrol denganku yang tidak secantik dan sekeren teman-teman dekatmu. Aku salah mengartikan tatapan itu, tatapan yang bisa jadi tak memiliki arti seperti yang kupikir selama ini. Dengan konyolnya aku berharap masa sekolah menengah atas yang kini kujalani akan indah bila bersamamu. Namun ekspetasi itu tinggallah mimpi, terlalu kecewa untuk kuungkit lagi.
"Lebih baik kembali dari awal dan berharap semua tidak terjadi, untuk apa juga aku merasakan sesuatu yang nggak seharusnya kurasa? Bukankah bagimu aku tak memiliki special spot sama sekali? Itu semua hanya sebatas tindakan baikmu untuk membantu teman, sama saja seperti yang lain, bukan? Bermula dari projek yang sama, dan akhirnya tumbuh rasa begitu saja. Iya, aku yang terlalu memaksakan agar masa di sekolah ini menjadi lebih berwarna. Dan..." Kuhentikan ucapanku dan menghela napas berat.

Udara dingin mulai menusuk tengkukku, aku bangkit berdiri dan merapikan kaos yang kukenakan, kemudian mendekat dan meraih tangannya untuk mengembalikan payung yang kupinjam darinya. Rey mendongak, aku tersenyum getir. "Terima kasih karena telah menjadi penyembuh luka, Rey. Jaga dirimu. Maaf, kalau memang tak ada yang ingin disampaikan, aku harus pergi sekarang."

Sebelum benar-benar pergi, aku menepuk bahunya beberapa kali, lalu berjalan pergi tanpa menoleh ke arahnya. Aku terhenti di balik beton yang membatasi taman bermain dengan jalanan. Kulihat Rey dari celah kecil yang ada, dirinya menunduk memandang tanah. Aku mundur beberapa langkah, menutup kepalaku dengan tudung jaket, dan berjalan lambat menuju rumah, sesekali menendang kerikil. Bulir kristal bening mulai membasahi pipi, aku usap hingga beberapa kali.

"Sera!" seseorang memanggilku dengan lantang. Rey menyusulku, aku hanya kembali mengusap pipiku dan tetap berjalan seolah tak ada yang terjadi hingga lelaki berambut ikal itu menarik lenganku hingga aku berhenti. Kulihat jalanan dengan nanar.

"Tunggu, aku belum bicara, aku perlu mengatur napasku." Rey berdiri di hadapanku. Aku hanya diam tanpa senyuman, merapatkan jaketku dan membuka tudungnya perlahan. Kami menepi ke dekat telepon umum yang sedang kosong, membiarkan orang berlalu lalang tanpa harus terganggu dengan keberadaan kami. Jalanan sedang lenggang, tidak seramai biasanya.

"Ser, kenapa kamu terus membuatku repot dengan perasaanku sendiri?" Rey menatapku lekat-lekat, aku menggeleng. "Jangan buat aku seperti yang dia lakukan sebelumnya," lanjutnya.

"Kamu terlalu banyak teka-teki, Reyji. Katakan saja sejujurnya dan mari akhiri semua dengan akhir yang bisa dimengerti," tukasku parau.

"Apa yang akan berakhir? Mengatakan pada akhirnya kamu akan baik-baik saja dengan benar-benar menganggap semua yang telah terjadi itu hanya kebetulan semata? Tunggu, kamu bilang sebuah rasa tumbuh begitu saja, bukan? Menurutku kamu sendiri yang membiarkannya tetap tumbuh dan menyiramnya setiap hari." Rey terkekeh hambar.

"Apa akhir yang kau inginkan? Pergi begitu saja, Ser?" tanya Rey. Aku sedikit menggigit bibir bawahku sebelum menjawab pertanyaannya.

Pipiku kembali terasa hangat, seulas senyum getir kutujukan padanya. Rey terdiam dan bersandar di dinding tempat telepon umum, kemudian mendekat ke arahku, mengusap bekas air mata yang mengering, lalu memberiku selembar foto polaroid. Di sana aku melihat diriku tengah tersenyum di tengah padang bunga matahari sembari meniup gelembung sabun. Aku ingat, saat itu kami sedang mengerjakan projek film pendek untuk terakhir kali, karena terlalu banyak interaksi, aku memilih berjalan di antara bunga itu sambil meniup gelembung sabun yang kudapat dari sisa properti syuting. Yang kutahu, saat itu semua kru sedang beristirahat dan aku seorang diri berada di padang matahari yang tak jauh dari lokasi mereka.

Tak ada yang dapat kukatakan. Perlahan Rey mendekapku di tengah alunan musik dari kafe seberang, kemudian melepas rengkuhannya dengan hati-hati. Dirinya tersenyum, menyelipkan poniku yang cukup panjang ke balik telinga.

"Kwon Seungha atau Radi Mahardika?" Rey tersenyum hingga menampilkan deretan giginya. Begitu senyumnya memudar, ia mundur beberapa langkah, lalu melambaikan tangan pelan.

"Apa?" gumamku nyaris tak bersuara.

Aku pun berjalan pulang dengan keadaan hampa. Di tengah perjalananku, aku kembali bertemu dengan pemilik toko roti yang hendak menutup tokonya. Aku menyapanya, ia ikut membalas senyumku. Tak perlu berlama-lama, kulanjutkan langkahku dengan kalut. Rey benar, apa yang berakhir? Kita saja belum memulai apapun, tak pernah ada yang mengungkapkan perasaan masing-masing. Aku terlalu rumit dengan pemikiranku sendiri, menganggap sudah separuh jalan telah dilewati, nyatanya tidak sama sekali.

Sebelum beranjak tidur, aku menulis mengenainya dalam diary, lalu menempelkan foto polaroid itu di lembaran kertasnya. Paginya di hari Minggu, aku pun pergi ke pinggir sungai untuk melihat bebek berenang dan berbaring di atas rerumputan. Setidaknya aku mengerti keadaan, Rey tidak benar-benar mengabaikanku. Sinar matahari mulai menyilaukan mata, aku memilih duduk di tepian.

"Masih teringat dengan yang semalam?"

Tubuhku mematung sesaat, kutolehkan wajahku ke sumber suara. Rey tertawa kecil, aku memicingkan mata sebal. "Nggak tuh," kataku jutek. Bagaimana dia bisa tahu kehadiranku itu bukan masalahnya, aku hanya tak menyangka Rey akan tertawa ketika berbicara denganku, berbeda dengan sebelumnya.

"Lucu, pada akhirnya kita tahu, kan? Aku sempat membaca bukumu saat kamu pergi ke luar ruangan ketika klub, yah ... itu lancang sekali." Rey kembali tertawa. "Tapi mengapa aku terlihat sebegitu menyebalkannya di matamu? Terlebih kamu menulis bila aku mirip karakter dalam komik. Begitu aku dengar semua dari ucapanmu secara langsung, aku jadi lebih paham."

Wajahku merah padam, "tapi kenapa kamu diam saja?"

Hening sesaat. Angin meniup rambutku pelan, bunga-bunga di pohon yang berada tak jauh dari sana berguguran. 

"Karena lagi-lagi aku kerepotan dengan perasaanku sendiri," jawabnya singkat. Rey tersenyum dan mengacak rambutku. Di salah satu tangannya terdapat bungkusan plastik berwarna putih yang berisikan es krim. Aku meliriknya sekilas. "Oh, ini ada es krim, dimakan, jangan dilihatin aja." Rey tersenyum lebar seraya mengeluarkan es krim dari bungkusan tersebut. Memberiku satu es krim rasa stroberi. Rey membuka bungkusan es krimnya, kemudian memakannya dengan sedikit belepotan, aku tersenyum.

"Kenapa?" Begitu ditanya, aku hanya menggeleng. "Nggak kok."

Dari kejauhan aku mendengar suara memanggil Rey, rupanya teman satu klub kami, Hasyima. "Reyji! Bisa-bisanya kau kabur ya?"

"Siapa yang akan menggantikanmu memotret?" Teman di sebelahnya ikut menimpali dari kejauhan. Rey tampak pucat pasi, ia melihatku seraya menyugar rambutnya. "Rey? Kamu ada janji hari ini?"

Rey segera menarik lenganku untuk ikut berdiri dan tertawa. "Kabur Ser, aku lupa hari ini ada pemotretan. Tidak terlalu penting kok."

Aku terdiam, menengok ke arah Hasyima dan temannya yang kian mendekat. Rey menggenggam pergelangan tanganku dan berlari menjauhi mereka. "Ayo Ser, kita nggak punya banyak waktu."

Kakiku mengikuti arah Rey pergi. Dirinya tertawa kecil, menanyakan apa aku tidak masalah dengan ini. Hasyima masih berada di belakang, mengejar kami. Rey memilih bersembunyi di bawah meja toko roti milik bibi kemarin. Hasyima masuk ke toko, Rey memejamkan matanya begitu ia berkata pada bibi penjual roti. Namun bibi itu tak mengatakan yang sebenarnya seolah sedang melindungi kami. Ketika aku memeriksa keadaan dan kurasa Hasyima benar-benar pergi, aku meminta Rey ke luar dari bawah meja.

Aku membungkuk sopan pada bibi pemilik toko roti, Rey mengikutiku. Bibi itu tersenyum, seolah mengatakan, "apa yang kubilang benar, kan?" Kemudian aku dan Rey balik. Kami berpisah di tikungan pertigaan jalan. "Apa kamu berniat menulis kejadian hari ini dalam diarymu dan menganggap semua berakhir baik-baik saja?"

"Mungkin," kataku diiringi tawa. Rey melambaikan tangannya, ia membiarkanku pergi lebih dulu hingga menghilang di tikungan jalan. Begitu berbelok, aku masih memastikannya dengan diam-diam apakah ia masih berada di sana atau tidak. Rey masih ada, dia tampak menatap lurus ke depan, sebelum akhirnya kulihat seseorang menghampirinya. Mereka tampak berbincang sebentar hingga akhirnya pergi. Perempuan dengan bando putih itu menggandengnya segera. Aku berbalik, menggumam tidak jelas. Tanpa sadar, aku merasakan denyut jantungku yang kini mulai tak beraturan dengan tanganku. Aku menunduk, merasa bodoh karena berharap akan sesuatu. Es krim pemberian Reyji sudah banyak mencair. Tak lama, aku mencium aroma parfum yang manis, lalu kulihat sepatu seseorang di hadapanku. Perlahan, aku mendongak.

"Sera? Itu kamu?"

Dia berada di sana, seseorang yang pernah hadir sebelumnya. Yang mungkin saja aku anggap tidak begitu penting, namun kini rasanya berbeda. Untuk kali kedua aku mengatakan sembari berjabat tangan dengan perasaan yang lebih tenang. Aku tersenyum padanya, mengingat momen pertama kali aku berjabat tangannya ketika dia si murid pindahan itu duduk di seberang bangkuku. Yang berbeda, setitik air mataku turun tanpa diminta, meski sudah sekuat tenaga aku menahannya. 

"Iya, aku Sera."

-Tamat-

Postingan Populer