Rigel, Theo, dan Saga

Bukan maksudku berhenti, aku hanya diam sejenak untuk mencium aroma dari kue yang baru dipanggang. Pergelangan tanganku terkilir, sementara pola napasku masih tak beraturan. Rigel berdiri di sampingku, meminta lanjut dengan sedikit gerakan kepalanya. Sepanjang perjalanan, aku sering bercerita, sedangkan ia tersenyum tipis sambil mengangguk. Namun beberapa menit terakhir, dirinya memilih menatap lurus ke depan dan aku enggan berkata apapaun. Tanpa beban, aku memasuki toko buku di ujung jalan. Semula Rigel ragu, tapi aku tak mempedulikannya. Memang aku tak memiliki alasan khusus untuk memasuki toko buku. Pegawai pria menyapaku dengan anggun, menawarkan beberapa buku yang mungkin kusuka. Kujawab ramah dan berjalan santai di antara deretan buku tebal yang selalu kuincar. Sudah lama aku tak 'kencan' bersama pacar novelku itu di sekolah, entah mengapa aku lebih murung akhir-akhir ini dan memilih kelas sebagai tempat tidur kala istirahat. Kini Rigel menatapku dingin, aku membuang pandangan dan beralih ke tumpukan komik. Pandanganku kosong, jemariku mengelus permukaan sampul plastik dengan perlahan. 

"Ada apa denganmu? Aku telah mengikuti sedari pagi hanya demi mencari bayangmu yang hilang itu." Kata Rigel melemaskan persendianku. Aku menoleh pelan ke arahnya, memeluk jurnal dalam pelukan.

"Tinggalkan aku, mudah bukan?" ucapku datar. "Maaf, aku merepotkan."

Dia benar berlalu, membuat gemerincing bel yang lumayan terdengar keras. Aku tersenyum masam, mengambil komik ala kadarnya dan membayar di kasir. Pegawai pria itu tetap tersenyum, sedikit membawa kedamaian sore ini. Aku berharap Rigel tak sungguh dalam tindakannya, namun aku tak mampu mengulang ucapanku tadi. Aku duduk di bangku kosong, membuka komik dan membacanya. Tiba-tiba saja pipiku hangat, Rigel baru saja memberiku secangkir kertas espresso. Aku tersenyum tipis, sementara dia melepaskan jaket dan meletakkannya di pundakku. 

"Kau tak lelah?" tanyaku pada Rigel, sahabatku itu terkekeh pelan. Aku mengernyitkan kening sebelum akhirnya aku terperanjat dengan apa yang dia lakukan padaku.

"Lelah katamu? Jika aku lelah, aku tak akan mengikutimu sejauh ini. Ya, aku lelah, tapi rasa yang ada lebih dari ini." Dia mengenggam jemariku, lalu meletakkan tepat di jantungnya yang berdegup. Aku meneguk saliva sambil terus memandangnya.

"Aku selalu berpikir positif tentangmu, mencoba mengobati luka milikmu, mendengar apapun yang kau bicarakan sepanjang jalan tanpa berniat memotong satu kata pun, aku membiarkanmu bertahan pada duniamu, aku membiarkan dirimu memasuki ruang di hidupku dengan sesuka hati, atau sekadar menatap tatapan nanarmu itu demi mencari kekasihmu. Hei, Sob ... semudah itu kau katakan setelah apa yang aku lakukan? Tak sadarkah kau akan itu? Jika aku tak peduli, aku tak akan berada di sini."

Rigel mengalihkan pandangan, meletakkan jemariku kembali di kopi espresso yang hangat. Aku terdiam, memandang jalanan yang mulai dijatuhi rinai hujan. Aku mencoba menoleh ke arahnya, tak kusangka dia mengatakan hal ini padaku. Menurutku, dia cukup tenang dan mendengarkan celotehanku dengan bijak. Kulihat dia tak meneguk kopi sepertiku, aku menawarinya, tetapi ia bilang 'cukup'. 

"Hei, menurutku kau lebih dari cukup." Aku tersenyum, Rigel tetap tak menoleh, wajahnya sedikit pucat. Di lengannya terdapat bekas luka jahit. "Kau terluka? Kenapa kau tak mengatakannya padaku?"

"Tak masalah," jawab Rigel sekenanya. 

"Oke, aku paham." Aku bersandar di bahunya. "Terima kasih, Sob.. aku jarang menyebutkan kata itu, kan?"

"Maksudmu?"

"Ada tiga kata ajaib di dunia ini. Pertama maaf, kedua tolong, dan yang ketiga dapat melegakan hati seseorang yaitu terima kasih. Aku jarang mengucap itu padamu, bahkan tak menyadari bila kau ada di sampingku untuk mendengar celotehanku. 

Aku akui aku terlalu sibuk dengan pemikiranku hingga aku jarang memberimu kesempatan untuk melakukan hal yang sama. Aku membiarkanmu sebagai boneka tak bernyawa. Oh sudahlah, ayo, kita pulang." Aku berdiri, mengembalikan jaket kepada Rigel dan dirinya menolak memakai kembali. Aku pasrah, kembali menyelempangkan jaket di bahuku. Kami pulang menaiki bus, di kota ini aku tak menemukan harapan mengenai Theo. Tetapi aku mendapatkan sudut pandang baru dari Rigel, yang selama ini ada untukku, menemaniku, walau dirinya sendiri merasa perih. Aku teringat ketika jatuh tadi, Rigel berusaha menolongku dengan sigap. Tanganku terkilir, tetapi aku tak tahu apa yang Rigel rasakan.. mungkin ngilu di pinggang atau lengannya. Aku tak menanyakan keadaan Rigel, dia memilih menenangkanku, dan aku berusaha mengobati diriku sendiri.  

"Untukmu." Kuberikan komik tadi untuknya, ada binar setitik di manik matanya. Aku tahu dia amat suka komik sedari kecil. Di bus kali ini, aku menjadi pribadi yang lebih ceria. Kehadiran Rigel lebih berarti dibanding memikirkan Theo yang tak jelas pastinya. Ya, meski sedikit terlambat untuk menyadari hal sekecil ini. 

"Terima kasih," ucapnya tulus. Seharusnya aku yang berkata terima kasih padanya. Aku cukup mengangguk kecil sembari tersipu malu akibat ulahku tadi. Sekarang, siluet mega tampil memesona. Rigel kembali tersenyum, memberikan energi positif dan  tak akan kusanggah seperti biasa. Jika biasanya aku menjawab 'tapi' atau 'bagaimana bisa?' sekarang aku memilih kalimat lain seperti aku bisa dan percaya serta terima kasih untuk ini. Tak buruk, apa yang dia ajarkan padaku memberi efek baik. 

***

Rigel, dia kawan sejatiku. Sekarang dia melanjutkan studi ke universitas terkenal di Amerika. Dia mengirimiku kartu ucapan serta beberapa buku setiap tahunnya. Dirinya masih seperti dahulu, menyenangkan, dan tulus. Tepat setelah kejadian itu, aku berubah menjadi pribadi yang positif. Memandang hari sebagai hari baik selalu. Ajaib, beberapa kawan lama mulai menghubungiku, aku memiliki organisasi baru, tetangga ramah, juga orang yang menyapaku di jalan meski aku tak mengenalnya. Aku tak bersama dengan Theo, tapi aku mengenal Saga. Dia melebihi Theo dan seperti kata Rigel ... berpikirlah positif dan jalani harimu demikian, percaya atau tidak, dunia baru yang cerah akan berpihak padamu.


Postingan Populer