Kabar untuk Neptunus

Gumpalan awan menampakkan raut resah, mewakili kesendirianku yang amat menyedihkan. Gerimis membasahi jalanan kala malam. Aroma petrichor menggelitik hidung, mengingatkanku akan mimpi yang mungkin tak akan pernah kucapai. Namun, aku yakin bila Tuhan masih memberiku kesempatan. Samar-samar, kudengar lagu bernadakan minor dari kafe sebrang. Dingin, itu yang kurasakan sekarang. Sebuah novel pemberian Kak Jeromi masih dalam pangkuan dengan buku harian yang ia berikan untukku. Kapan dia kembali? Aku merindukan saat dulu. Kak Jeromi sering bercerita mengenai perjuangannya dalam menerbitkan suatu karya, lelahnya menjadi orang tak punya, juga bagaimana cara menertawakan lelucon sadis dari orang yang menganggapnya hina. Sungguh, kerap aku berdiskusi dengan batinku. Dia belum datang setelah empat tahun aku menunggu pada bulan serta tempat yang sama. November, di bawah kemerlipnya bintang. Aku tak sebahagia dulu, tanpanya aku kesepian. Entah mengapa lidahku kelu untuk sekadar memanggil namanya. Saat kembali kutatap novel berhiaskan Neptunus sebagai sampulnya, aku tersenyum samar mengingat panggilan unik yang ia beri padaku. Novel itu sempat ditolak oleh penerbit, Kak Jeromi yang menceritakannya secara langsung. Tak dapat kubayangkan bagaimana hati Kak Jeromi teriris begitu dalam. Itu remedial dia untuk ke-57 kalinya. Namun, akhirnya novel itu berhasil diterbitkan karena suatu keajaiban. Ah, tawa Kak Jeromi meledak saat ia menceritakan bagian ini. Mungkin garis di sekitar mataku akan tampak sekarang. Kini, aku memutuskan pulang setelah berjam-jam duduk di halte sunyi berlampukan redup. Bulan mulai tampak, tetesan air pun pergi tanpa aba-aba. Kulangkahkan kaki pulang, bagian bawah rokku basah akibat genangan air. Tetesan air dari dedaunan membuat embun di kacamataku. Menyebalkan memang, tapi kuanggap si embun sebagai sapaan dari alam yang diam-diam ingin berkenalan denganku. 

....

Kulihat Eyang menyulam dengan lihai dari balik jendela. Manik matanya masih awas, tak seperti mataku yang minus, dampak sering membaca pada cahaya remang. Opera Van Java menemani malam Eyang. Di atas meja kecil, tersaji secangkir energen beserta jajanan wingko buatan Bunda. Ingin aku mencicipinya nanti, sekalian mengambil beberapa di dapur sebagai pengantar mimpi indah. Semoga saja benar adanya. Angin malam kembali mengembuskan napasnya di tengkukku. Dinginnya hingga menusuk tulang, menjalar sampai jaket tipisku tak mampu memberikan efek apapun. Gemerincing lonceng kecil membuyarkan senyap. Lonceng benda kesayanganku sewaktu kecil. Eyang yang membelikannya untukku. Sempat kupikir bila Eyang tak beda jauh dengan Kak Jeromi yang begitu menginspirasi. Eyang memberiku nama panggilan Genta, yang berarti lonceng. Aku mengangguk setuju kala itu, di mana Eyang memelukku erat selepas menceritakan beberapa legenda pengantar tidur. Aku menyayanginya, tak peduli jika kursi beroda dua itu menjadi benda kebutuhan Eyang sekarang. Yang terpenting, aku masih dapat menikmati jingga milik senja bersama Eyang, ataupun menonton acara lawak di televisi.

"Cah Ayu wis mulih?" Eyang tersenyum ke arahku yang baru saja membuka pintu. Aku mengangguk, melepas jaket, lalu duduk tak jauh darinya. Keriput di wajahnya menunjukkan usianya yang lebih dari setengah abad. Aku terbiasa berbahasa Jawa dengan Eyang, namun tidak dengan Ayahku yang berasal dari Jakarta serta Ibuku yang sudah lama tinggal di Jakarta pula. Meski tinggal di kota metropolitan, keadaan ekonomi keluargaku tak semulus apa yang dibayangkan. Tak seperti kawan lainnya, diriku tak memiliki keistimewaan apapun. Jika mereka mampu membeli aneka kue di kantin, aku cuma bisa memandang tanpa ada keinginan untuk mendapatkannya. Lebih baik aku menyisihkan, daripada aku tak dapat melengkapi peralatan tulisku. Semenjak mengenal Kak Jeromi, aku sering menuliskan mimpi pada buku harian. Kuhabiskan waktu luang di perpustakaan, mencatat apa yang harus kukerjakan besok, dan seterusnya begitu. Tak seorangpun menanyakan keberadaanku. Kuakui aku tak banyak bicara, apakah itu salah? Bagi orang introvert, aku memiliki banyak teman di luar sana yang mempunyai kepribadian tak beda jauh dariku. Oh, Tuhan, ada apa ini? Pikiranku melayang ke tempo lalu.

"Eyang dereng sare napa?" tanyaku seraya melirik ke arah jam dinding. Pukul 20.30 WIB, Seharusnya Eyang tidur saja, tetapi dia masih asyik dengan kegiatan menyulamnya. Aku tak bisa melarang, hanya dapat mengingatkan. Sedari tadi Bunda belum pulang, mengapa beliau lama? Tak bisanya begini.

"Engko wae. Mrene, Nduk." Eyang memintaku mendekat ke arahnya. Kuselipkan anak rambutku ke belakang telinga. Ia memandangiku dengan tatapan sayu, mengusap pipiku dengan halus, kemudian mengecup keningku dengan satu kecupan. Lama sekali aku tak mendapatkan kecupan manis dari Eyang, terakhir kali yakni saat aku masih berusia 11 tahun. Beliau lebih senang merangkul pundakku, tetapi kali ini lain. Kecupan Eyang macam setruman listrik, tubuhku bergetar hebat setelahnya. Sementara tayangan Opera Van Java berubah menjadi film Suzanna yang aku takuti. Inginku mengganti siaran, tetapi aku menghargai perasaan Eyang. Tak seberani itu aku mengambil remot di sebelah Eyang.

"Wonten napa, Eyang?" Aku menggenggam tangan kirinya, sedangkan tangan kanan Eyang memberikanku sebuah syal hitam dengan motif bunga sedap malam. Aku terkejut bukan main, berbagai pertanyaan terputar di pikiranku. Sedap malam merupakan bunga faforit Eyang, sementara warna hitam memancarkan aura negatif di sekelilingku sekarang. Spontan aku meremas syal yang baru dibuat Eyang perlan, menyipitkan mata seolah berpikir.

"Aja dadi wong sing cilik ati, kowe iku gedhe ... atimu aja cilik, Cah Ayu," tutur Eyang. Cukup lama ia memelukku, menasihatiku dengan logat Jawanya. Aku tak tahu apa yang terjadi, sikap Eyang tak seperti tadi pagi yang masih membuat renyah roti bakarku. Candaan Eyang pergi entah ke mana. Di satu sisi, aku cemas bukan main. Ditambah suara musik film Suzanna membuatku merinding setengah mati. Kubalik peluk Eyang erat. Eyang memilih melepaskan pelukannya perlahan, tersenyum padaku yang masih merasakan takut. Tak tahu takut kehilangan Eyang atau takut pada jeritan malam bersama Suzanna. Mengerikan, terutama pada adegan  tertentu. Eyang Sapta menggelengkan kepala, beliaunya malah berkidung. Entah mengapa bulu romaku berdiri saat mendengarnya. Firasatku tak enak, seakan suatu kejadian akan menimpaku serta Eyang. Tangan Eyang terasa dingin, kulirik cangkir energen yang masih tersisa banyak. Ada yang tak beres di sini, aku memutuskan pergi ke kamar dan segera tidur. Dengan sopan, aku pamit pada Eyang. Beliaunya tersenyum hingga menampilkan deretan giginya yang tak utuh lagi. Saat aku kembali menoleh ke belakang, Eyang tampak menunduk, aku pun berjalan cepat menuju kamar.

Suasana kamar tak berubah sedari dulu. Nuansa kelabu menghiasi, seolah tak ada warna lain yang mampu menyesuaikan perasaanku. Jendela kayu akan menghubungkanku dengan pemandangan pantai yang tak jauh dari sini. Kini, aku mencuci muka di kamar mandi dalam, menggosok gigi seperti kebiasaanku, lalu merebahkan diri di ranjang keras. Tatapan mata Eyang bergentayangan dalam benakku. Bayangan momen bersama Eyang berputar layaknya baling-baling. Ketukan ranting di jendela memberiku isyarat. Satu buah kelapa jatuh dari pohonnya, aku pun bersembunyi di bawah selimut tebal nan harum. Eyang pernah menceritakan hantu kepala yang menjelma bak tempurung kelapa. Bibirku komat-kamit membaca doa, meminta perlindungan Tuhan dari marabahaya ataupun gangguan setan. Aku takut, bila perlu kuacungkan jemari telunjuk serta tengahku secara bersamaan.

"Sa!" teriakan Eyang bagaikan kilat menyambar. Kusibakkan selimut yang menutupi tubuhku cepat, kuraih kacamata yang kuletakkan di atas meja belajar tadi. Kakiku sedikit kesemutan, tapi apa daya, Eyang membutuhkanku. Kuberlari macam flash, menerobos tirai beroncekan kerang yang menghiasi pintu kamar, lalu berdiri kaku beberapa detik. Wanita tua itu terjatuh dari kursi roda, aku tahu ini pasti terjadi. Aku menuntun Eyang berdiri, tapi Eyang tak sadarkan diri setelahnya. Tangan Eyang dingin, kaku, beserta keringat dingin.

"Eyang mboten napa-napa to?" Aku terduduk lemas di lantai, kemudian bangkit mencari ponsel. Belum sempat aku mendapatkannya, Bunda yang telah kembali dari kedai langsung dihadapkan pada kondisi darurat. Es kopi murahan titipanku tumpah, aku segera membersihkannya, takut mengenai kabel listrik yang tak jauh dari sana. Bunda segera membawa Eyang menuju UGD. Ritme jantungku bertambah cepat, sampai akhirnya aku pun perlu mengikhlaskan kepergian Eyang tahun ini. Perpisahan terakhir kami memilukan, tak kuasa lagi aku menangis sesenggukan. Bunda menyalahkan takdir, ia sempat memberontak dengan memukul kasur terakhir Eyang. Niat Bunda menghubungi Ayah, hanya saja Ayah tak menjawab panggilan telepon Bunda. Kuambil tisu, memberikannya pada Bunda, tetapi Bunda tak menganggapku ada. Bagaikan tokoh figuran, aku duduk di sudut ruangan seraya memeluk lutut yang baru saja tergores kemarin akibat terpeleset oleh kulit pisang. 

Kupeluk syal hitam dengan penuh cinta, benda itu sama seperti lonceng kunoku.

Aku tak tahu apa yang Tuhan rencanakan, aku yakin akan baik-baik saja setelahnya. Namun, realitasnya aku diam tergugu memandangi suasana mencekam selepas pemakaman Eyang. Kawanan pipit terbang menembus awan, warna langit macam kamarku yang tak berwarna selain kelabu. Bunda mengelus punggungku seraya membenahi syal hitam yang melingkar di leher. Liburan kali ini begitu menyayat hati. Kehilangan satu motivator terbaikku, sama saja seperti menghilangkan pembatas buku. Tak tahu mana yang harus kubaca, kembali pada titik semula, atau mendapat sesuatu baru disertai rumpangnya bacaan akibat aku melewatkannya. Keadaan Bunda mulai membaik, walau senyumnya masih terpaksa.

"Senin depan kita balik ke Bandung, Bunda masih ada keperluan di sana," kata Bunda dengan nada lemah. Aku tersenyum tipis mendengarnya. Bunda telah menyiapkan dua buah tiket kereta kelas ekonomi untuk kami. Tak kusangka secepat itu Bunda membelinya. Manik mataku masih tertuju pada daun kelapa yang melambai. Mengapa mendadak? Malam ini terasa panjang, kusempatkan diri menulis kabar pada Neptunus sebelum pergi meninggalkan kota kesayangan Eyang. Ya, dia Neptunus—Dewa Laut yang Kak Jeromi kenalkan padaku melalui novel Perahu Kertas karya Dee Lestari. Baiklah, lebih baik aku tidur sekarang. Kuniatkan hati untuk pergi ke pantai esok. Barangkali Kak Jeromi menantiku di sana.

....

Embun pagi terasa segar. Sebuah buku bersampul cokelat kutenteng menuju pantai. Bangku bambu menjadi tempat faforitku di sini, pemandangan alam terlihat lebih jelas. Tak hanya aku, melainkan Kak Jeromi juga. Dulu, aku sering meminta Kak Jeromi membuatkanku perahu kertas di sini, dirinya memberiku secara percuma seraya menyayikan lagu. Kak Jeromi akan membiarkan perahu kertasnya berlayar menuju laut lepas. Seingatku, dia menyukai warna merah untuk perahunya. Gelombang laut menjadi simponi tersendiri bagi kami. Bedanya, sekarang tak ada lagi yang akan membuatkanku es kelapa muda dengan pisang epe ala Eyang. Duduk seraya mencipta puisi di tengah pantai amat menenangkan.

Bugh!

"Duh!" Aku merintih kala bola voli mengenai pundakku. Reflek, kulepas pena dari genggaman. Perempuan berkulit gelap mentapku dengan senyuman miring. Aku tak tahu mengapa, dia terlihat tak suka. Codet di pelipis kirinya terlihat menyeramkan. Ia mengenakan kaus oblong dengan celana sepanjang lutut kakinya. Dia terlihat sendiri, tak ada lawan main ataupun teman bermain di sekitarnya. 

"Apa kau tak lihat jika aku sedang bermain voli?" tanya dia seraya mengambil bola voli di dekatku. Cara dia berbicara terdengar kaku di telinga. 

"Maaf." Aku tak mau berdebat dengannya, kuambil pena yang terjatuh, kemudian mencari tempat lain untuk menulis. Namun, dia merebut buku harian yang kubawa secara paksa, aku benar-benar terkejut. Beberapa bagian di tengah sobek, tetapi aku mencoba bersabar. Dia tak mau tahu, aku tak ingin mempermasalahkannya.

"Diary kau?" Gadis itu menatapku sinis. Aku mengangguk, sedikit memaksakan senyum, berusaha seramah mungkin. Dia membuka buku harian tanpa seizin dariku.  Sedikit kesal memang, tapi sudahlah. Toh, aku tak pernah menuliskan hal-hal aneh lainnya. Cukup lama ia memandang fotoku pada bagian depan buku. Beberapa kali ia melirikku, aku paham dia cuma memastikan kebenaran atau mungkin kesamaan dalam foto itu denganku. Foto di mana aku dan Eyang melakukan piknik kecil-kecilan di depan rumah. Gadis itu kemudian membuka halaman per halaman. Ucapan pedas mendarat di telingaku sebelum akhirnya ia mengkritikku, menyinggung perasaanku yang cenderung sensitif, tapi tetap aku biarkan begitu. Karena bagiku, saat paling sakit ialah ketika aku menyakiti orang lain, bukan karena aku yang tersakiti karena sesuatu. Ya, pasti kalian tahu bagaimana posisiku.

"Aduh, tulisan macam apa ini? Kau belum bisa menulis, perbanyaklah membaca buku. Oh, ya, aku Trisye."

"Fosa ... Fosa Astarea." Aku mengenalkan diri dengan canggung. Kutelan air ludahku kasar, lalu membuang muka ke arah lain. Pandanganku tertarik pada sekumpulan anak yang sedang membuat istana pasir. Mereka tampak bergembira, terutama si gendut dengan poninya yang mirip Dora.

"Sudah tahu, nama kau tertulis di buku. Lagipula aku tak bertanya siapa nama kau." Trisye terkekeh pelan, "sebentar, kau pernah mengikuti lomba menulis cerpen dan kau gagal?" ledek Trisye sembari menunjuk lembaran keempat yang ia buka, kemudian menepuk kepalaku dengan buku harian yang lumayan tebal. Aku kurang menyukai sikapnya yang begitu, itu tak sopan meski dengan sepantaran. Aku berdecak, Trisye tertawa sinis. Seringainya macam iblis termanis yang pernah kutemui. Sekilas, aroma parfum dari Trisye menyengat hidung, aku terbatuk kecil setelah mencium baunya. Syukurlah dia tak bertanya apapun padaku

"Haduh, mengapa mataku sakit saat melihat tulisan kau? Coba baca lagi, tata bahasa kau masih kurang. Ini apa? Penulisan kau salah, seharusnya bukan begini. Fiuh, tak habis pikir mengapa kau ingin menjadi penulis. Dasar tak becus." Dirinya terus membaca serta berkomentar mengenai isi buku harianku.. Lama kelamaan aneh juga didengar. Dia baru saja mengenalku, tapi mengapa sepertinya aku pernah menemuinya sebelum pertemuan ini? Kata-kata pedasnya begitu familiar. 

"Apa maksudmu?" Aku mengernyitkan kening. Trisye memutar bola matanya malas, dia terlihat menelan salivanya. Sungguh, Trisye membuatku terlihat bodoh sekarang. Ya, bodoh sekaligus penasaran akan dirinya. "Sudahlah, kembalikan ...." pintaku memelas. Trisye mencebik kesal. Ia terus membaca hingga dia membelalakkan mata seolah menemukan harta karun dalam bukuku. Kuraih bukuku paksa, buku itu milikku, bebas mau kuapakan juga.

"Kak Jeromi? Eh ...." Trisye pun terdiam. Aku meraih  bukuku tanpa ekspresi. 

"Berhenti membacanya, itu pengalamanku. Asal kamu tahu, aku berjuang mati-matian saat itu. Kamu pikir menulis itu mudah? Aku akui aku tak sejago dirimu. Kumohon, jangan salahkan cita, dialah harapan saat semua terasa tak memungkinkan. Namun, jika kamu berniat mengajariku, silahkan saja ... aku akan mendengarkan penjelasanmu dengan senang hati. Permisi, Trisye. Senang bertemu denganmu." Aku berjalan menjauh dari Trisye yang berdiri mematung dengan bola volinya. Sebenarnya aku tak tega, seharusnya aku tak cepat emosi macam begini, dia pun punya perasaan. Kudongakkan kepala ke birunya lazuardi, meminta Tuhan mengampuni dosaku juga tak memberi karma semacam itu. Setelah mendongak ke atas, aku mengatahkan pandangan ke bawah. Tali sepatuku lepas, aku harus mengikatnya. Derapan langkah kaki terdengar jelas, apa Trisye kembali? Kudengar derap langkah kaki lain juga yang tak asing bagiku. Aku bangkit dan menengok ke belakang, kudapati seorang berusia 20 tahunan tersenyum padaku. Dikenakannya kaus berwarna putih dengan gambar Mickey Mouse. Ia mengibaskan tangan di depanku yang belum mengatupkan bibir. Postur tubuh Kak Jeromi justru terlihat lebih gemuk dari 4 tahun lalu. Wajahnya pun terlihat sebersih kapas. Dia tampak jauh lebih tampan. Di lengan kirinya, ada kepangan gelang berwarna cokelat. Potongan rambutnya masih sedikit acak-acakan seperti biasa.

"Oh, Tuhan ...." gumamku. Kubulatkan  mata dengan sempurna. Kutarik kedua sudut bibir hingga menampilkan lesung pipit pada kanan pipiku. Senyum merekah terpampang di muka. Kak Jeromi terkekeh melihat tingkahku yang tak biasa. 

"Kak Jeromi, kan?" Segera saja aku mengucap syukur pada Tuhan dengan adanya kehadiran Kak Jeromi sekarang. Ia mengacak rambutku layaknya seorang kakak. Di sampingnya, Trisye tersenyum manis. Sikapnya berubah 180 derajat. Sekarang, aku merasa canggung di hadapannya. Rasa bersalah masih menghantui, walau tak sepenuhnya aku bersalah. Pikiran negatifku telah meracuni. Trisye menyodorkanku sebotol air mineral, agar tenang katanya. Sekaligus permintaan maaf karena membuatku tak enak hati. 

"Hai, selamat bertemu lagi, Putri Neptunus kecilku." Kak Jeromi menepuk pundakku, kemudian ia mengenalkanku pada Trisye mengenai dia yang sebenarnya. Aku baru tahu, Trisye bukanlah seorang remaja dengan sifat juteknya. Dia adalah penjaja koran yang tinggal pada rumah singgah milik Kak Jeromi. Aku tertawa saat mengetahui bahwasanya ia hanya bersandiwara agar dapat membaca buku harianku. Dia sekadar ingin dekat, kendati cara yang ia gunakan kurang tepat.

"Fosa, maaf aku baru datang sekarang. Aku ikut berkabung atas kepergian Eyang Sapta." Kak Jeromi menatapku sendu, aku memejamkan mata sejenak, kemudian kembali tersenyum simpul. Trisye mengatakan hal yang sama, membuatku kembali mengingat kenangan lalu. Dua butir kristal turun membasahi pipi. Tanpa kusadari, aku memeluk Kak Jeromi erat, seakan tak ingin kehilangan untuk kesekian kalinya. Kaus putih Kak Jeromi basah akibat air mataku. Trisye mengembuskan napas panjang kemudian bersenandung.

"Fosa, ikut aku." Kak Jeromi melepas pelukanku. Lelaki itu mengusap cairan bening yang menetes. Aku meredam tangis, berusaha tenang. Kak Jeromi menggandeng tanganku menuju tepi pantai, sementara Trisye merangkulku tulus. Aku merasakan kehangatan darinya. Kami bertiga menapakkan kaki pada pasir pantai, menunggu ombak kecil membasuhnya. Udara yang kuhirup memberi napas baru, embusan angin mengeringkan pipi basahku. Diam-diam, Kak Jeromi menggenggam jemari kiriku.

"Dongeng saja belum tentu memiliki kisah yang bahagia, bukan?" ujar Kak Jeromi. 

"Benar," jawabku parau.

"Masih ingat Kugy sama Keenan?" Kak Jeromi meninggikan nada bicaranya diselingi tawa. Kuanggukkan kepala cepat. Kak Jeromi menggaruk hidungnya yang kuyakin tak gatal sebelum melanjutkan pembicaraan.

"Kamu pasti tahu, dalam meraih mimpinya menjadi penulis dongeng ... perjuangan Kugy tak mudah. Keenan pun sama, ada banyak tantangan yang ia lalui untuk menjadi pelukis handal. Mereka adalah dua tokoh faforitku, Fosa," terang Kak Jeromi. "Dulu, Eyangmu mengajariku arti opstimisme dalam novel itu selagi kau berada di Jakarta. Itulah mengapa aku memperkenalkanmu pada Neptunus. Kuingin kau berbagi cerita dengannya," terang Kak Jeromi menunjuk lautan lepas dengan dagunya. Kuperhatikan tenangnya air laut, rasanya aku ingin melarikan diri ke sana, melepas stress, atau sekadar bertemu kawan baru.

Lelaki di sampingku kini mengeluarkan secarik kertas, meminjam pena, kemudian menuliskan beberapa kalimat. Air mataku mengering. Sebagian orang akan menganggapku cengeng, itu tak masalah. Kulihat Trisye asyik memainkan pasir putih. Tak lama berselang, Kak Jeromi menunjukkan isi kertas itu padaku. Dengan serius aku mendalami maknanya, cairan bening menjadikan netraku layaknya kaca. 

"Neptunus, peluklah dia. Gadis berusia 14 tahun yang kerap menyendiri di tengah sunyi. Dara cantik nan anggun dengan imajinasinya yang tinggi. Dirinya seperti Kugy, penikmat dongeng yang tak kenal menyerah. Gagal? Ya, dia pernah. Tapi, kau jangan salah menilainya.  Mudah tersentuh? Ya, dia memang perasa. Dia macam Eyangnya, begitu percaya akan mimpi dan cara menggapainya. Dengarkan ceritanya, meski aku tahu kau tak akan mungkin menjawabnya secara langsung. Beri tanda pada alammu saja. Baiklah, kabarkan juga pada senja ... pinta dia memancarkan keindahannya nanti." Aku menghirup napas dalam seusai membaca surat dari Kak Jeromi. 

Kini, aku merasa lebih baik. Kak Jeromi menggenggam jemariku,  mengembalikan aura positif di sekitarku. Triyse menoel hidungku, dengan spontan aku menoleh ke arahnya. Dia memberiku surat kabar, segera kubuka lembar demi lembar untuk mengetahui apa yang ia maksud.


Postingan Populer